Bryan Achmad Otoluwa, Part 4: Everything I do, I do it for you

  • Whatsapp

Catatan: Dr. Yustiyanti Monoarfa

September 2002. Udara pagi kota LA cukup cerah. Kota incaran warga dunia ini berada di iklim sub-tropis yang cukup nyaman untuk pendatang dari Asia yang memang terbiasa di iklim tropis. LA punya 4 musim.

Bacaan Lainnya

Di musim dingin bisa sampai 0 derajat, tapi tidak turun salju dan matahari bersinar cerah sepanjang tahun.

Dan pagi itu seperti 4 hari lainnya dalam seminggu, saya menuju halte bus 38 tepat di depan apartemen. Bus itu akan membawa saya menuju Figueroa street ke Evans Community School tempat saya belajar bahasa. Hari itu saya ada jadwal ujian kenaikan level.

Sebelum ke Evans saya mampir dulu di klinik untuk ambil Voucher WIC. Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu merembes di betis. Saya menyentuh dan mambauinya. Seperti susu tapi tidak berbau. Apa ya? Tiap saya melangkah, cairan itu terus keluar. Perut bagian bawah saya terasa kram dan mengeras. Penuh tanda tanya saya menuju klinik La Vida.

Dokter memeriksa dan seketika menginstruksikan saya bersiap diantar ke Rumah Sakit. Saya kaget dan komplain karena jam 10 saya ada jadwal ujian di Evans. Dengan tegas Dokter memberitahu ada perembesan cairan ketuban dan bila tidak segera ditindaki janin bisa lahir dini.

Ya Allah, saya mendadak gugup, kaget, cemas campur aduk. Usia kandungan saya baru masuk enam bulan. Bayangan akan kehilangan bayi menghantui pikiran. Dokter menenangkan dan memberi saya minuman berglukosa. Dia minta segera menelpon dan memberitahu suami kondisi emergency dan harus segera ke rumah sakit. Dalam waktu singkat dengan dikawal petugas medis saya dilarikan ke rumah sakit di wilayah Holywood.

Setelah berganti baju pasien saya dibawa ke kamar observasi didampingi suami yang datang tak lama berselang. Dokter yang menangani langsung memasang infus di pergelangan dan saya diberi 2 botol air mineral ukuran 2 liter yang harus dihabiskan dalam tempo 3-6 jam. Saya diminta berbaring ‘lying on the left side’ atau posisi ke kiri untuk melancarkan sirkulasi dan aliran darah. Diminta rileks tidak boleh cemas dan panik agar kontraksi rahim mereda. Terus terang, saya benar-benar gugup. Untunglah suami berupaya menguatkan.

Setelah kurang lebih 6 jam diobservasi, saya akhirnya diperbolehkan pulang. Hanya saja status saya menjadi “ibu hamil dalam pengawasan”. Melalui serangkaian pemeriksaan, diagnosa dokter menyatakan saya sehat, hanya saja aktifitas dianggap terlalu tinggi sehingga terjadi kontraksi rahim. Saya wajib bed rest atau istirahat total untuk mencegah kelahiran dini atau prematur. Banyak gerakan bisa menstimulasi kontraksi rahim dan itu berbahaya untuk janin.

Memang sejak usia kandungan sebulan lebih, praktis saya mengisi waktu dengan beragam kegiatan. Selain sekolah bahasa, saya ikut kursus singkat web design di kampus USC. Sering pula hadiri berbagai event dengan komunitas Indonesia, bahkan pernah melakukan perjalanan panjang ke San Fransisco. Karena ini kehamilan pertama, praktis saya belum punya pengalaman apa itu kontraksi rahim dan hal terkait kehamilan lainnya. Bisa jadi, seringnya saya naik turun bis dan kereta bawah tanah jadi salah satu penyebab capek fisik yang tanpa disadari berakibat pada kontraksi rahim.

Sayapun harus menerima kenyataan : berhenti berkegiatan dan istirahat total. Jarak terjauh hanya ke kamar kecil dan ruang tamu. Saat itu kandungan ada di usia 24 minggu. Saya bertekad bisa menghabiskan sisa minggu kehamilan dengan kondisi yang sehat. Karena due date atau perkiraan waktu lahir ada di tanggal 20 Desember 2002, dan saat itu baru bulan Oktober. Hari ke hari dijalani hanya dengan baca buku dan nonton film di DVD player. Hingga tiba di suatu hari setelah lebih sebulan menjalani istirahat total, saya coba memasak salah satu menu kesukaan karena bosan dengan makanan yang dibeli di luar. Selama bed rest saya tak boleh lagi turun ke dapur. Makanya kangen sekali dengan makanan rumah.

Usai masak, saat ke toilet. Mendadak kaget ada bercak darah di tampon yang saya pakai. Tak lama rasa kram mulai menjalar di bagian perut bawah. Segera saya berbaring posisi kiri dan minum air banyak-banyak untuk mencegah kontraksi rahim seperti yang diajarkan dokter. Tapi kontraksi makin lama makin sering. Puncaknya di tengah malam saya mulai merasa sakit layaknya orang yang mau bersalin. Padahal usia kehamilan baru masuk 28 minggu atau sekitar 7 bulan. Suami putuskan untuk segera ke rumah sakit. Tiba di rumah sakit saya langsung dibawa ke ruang observasi, ternyata baru bukaan 5 dari 10.

Dan setelah kurang lebih 2 jam menahan nyeri kontraksi, Alhamdulillah saya bisa melahirkan secara normal putra pertama kami tepat di pukul 04.31 waktu LA atau pukul 19.31 waktu Indonesia di tanggal 4 november 2002 dengan berat 2.498 gram dan panjang 48 cm. Ukuran berat dan panjang lahir ini termasuk besar untuk bayi prematur usia 7 bulan.

Saat dipindah di ruang pemulihan, datang 2 petugas akte kota LA. Sudah jadi prosedur, setiap bayi baru lahir segera dicatat dan diterbitkan sosial security number atau nomor induk kependudukannya. Bagi kami ini luar biasa. Setelah miliki NIK, bayi akan punya hak dan kewajiban yang sama termasuk menerima segala fasilitas sebagai warga negara Amerika.
Ketika ditanya nama bayi untuk didaftar, suami bingung. Kami sebenarnya sudah menyiapkan nama “Rachmat Ramadhan” karena perkiraan bayi akan lahir pas di bulan ramadhan di Desember 2002. Tapi karena bayi lahirnya cepat, kami harus sesuaikan lagi namanya. Petugas memberi waktu setengah jam untuk berikan nama agar dokumen kependudukan bayi segera diterbitkan. Saya serahkan sepenuhnya ke suami untuk ide namanya. Dengan kondisi yang masih lemah, saya tak mampu kasih ide. Saya cuma bilang “yang penting ada kata Achmad”.

Saat saya didorong petugas melewati koridor menuju ruang rawat inap, sayup-sayup terdengar lagu yang sangat familiar. Lagu itu sangat populer di masanya. Judulnya Everything I do, I do It for You. Suami tanya ke saya siapa penyanyi lagu bagus ini? Saya jawab sebuah nama. Begitu tiba di ruang rawat, suami menyodorkan secarik kertas kecil ke saya untuk dibaca. “Boleh kira-kira nama ini?” Saya membaca tulisan di kertas itu : BRYAN ACHMAD. Dengan tubuh yang masih lemah saya mengangguk setuju. Segera kertas tsb diserahkan ke petugas akta. Rupanya suami terinspirasi dengan nama depan dari biduan si empunya lagu yang kami dengar di sepanjang koridor tadi : BRYAN ADAMS. Judul lagu itu begitu pas dengan apa yang saya rasakan saat itu. Perasaan bahagia dan haru yang sukar dilukiskan. Menjalani kodrat sebagai ibu yang rela berkorban apapun demi anaknya. Everything I do, I do it for you. Welcome to the world, Bryan Achmad. (Selesai). (*)