Wujudkan Indonesia Emas 2045, Bonus Demografi Harus Dimanfaatkan Dengan Baik!

  • Whatsapp
Sekretaris Utama BKKBN Tavip Agus Rayanto (kanan) dan Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto, pada pembukaan Seminar Nasional di Hotel Le Polonia Medan, Selasa (05/07/2022). FOTO: HUMAS BKKBN SULTENG

BANGGAI RAYA- Saat ini Indonesia telah memasuki bonus demografi. Pasalnya jumlah penduduk usia produktif lebih tinggi dibandingkan usia non produktif.

Bonus demografi yang dinikmati Indonesia saat ini, tentunya bakal berdampak pada semua sektor. Mulai dari sektor ekonomi, sosial, budaya, hingga keamanan negara dalam beberapa waktu ke depan.

Bacaan Lainnya

Hal itu diutarakan Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, S.Si., M.Eng saat seminar nasional yang mengangkat tema ‘Integrasi Kebijakan Pembangunan Kependudukan Dalam Prespektiif Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia’, Selasa (5/7/2022) di Hotel Le Polonia  Medan.

Terkait seminar nasional kata dia, digelar sebagai salah satu rangkaian Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke 29 di Medan. “Jadi kegiatan kita pada hari ini, dalam rangkaian Harganas yang puncaknya sebenarnya tanggal 29 juni 2022 kemarin. Tapi karena Pak Presiden berhalangan jadi kita mundurkan hari Kamis nanti di Lapangan Merdeka,” kata Bonivasius Prasetya.

BKKBN kata dia, setiap tahun menggelar Harganas yang diperingati pada tanggal 29 Juni. “Kita mengajak semua kementrian lembaga dan juga OPD terutama OPD yang erat kaitannya dengan kependudukan dan KB untuk bergabung bersama-sama menyukseskanya di berbagai daerah di Indonesia. Seperti tahun lalu itu pernah digelar secara virtual karena Covid-19. Jadi ini pertama kali dilakukan setelah Covid-19 yang umum offline, dan tahun depan kita geser lagi ke daerah lain,” katanya.

“Yang kedua sesuai dengan tema kita yaitu kualitas penduduk. Kita bicara tadi tentang bonus demografi jadi sekarang ini piramid penduduk indonesia itukan stasioner yang di tengah itu lebih banyak bagus tidak? Bagus ya itu usia produktif artinya orang yang bekerja itu kita tersedia banyak,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ia mengingatkan agar bonus demografi tak menjadi bencana demografi sehingga dibutuhkan berbagai persiapan.

“Namun masalahnya adalah satu masalah kualitasnya sebagai manusianya ini berkualitas atau tidak? Dari sisi pendidikan, dari sisi kesehatannya dan sisi skill-nya. Kemudian yang kedua lagi ada lapangan pekerjaannya tidak? Inilah yang kita bahas sekarang ini salah satunya terkait dengan bagaimana memanfaatkan bonus demografi dan juga usia produktif itu,” tuturnya.

Ia menambahkan, jika donus demografi ini betul dimanfaatkan maka pada tahun 2045 Indonesia emas, Indonesia bisa nomor 3 di dunia sesuai dengan estimasi para pakar. “Kalau memang kita bisa memanfaatkan betul-betul masa-masa sekarang ini sampai di 2045 nanti gitu. Jadi itu yang kita bahas d sini,” jelasnya.

Saat ini Indonesia sebutnya, telah mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

Jika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik akan membawa dampak buruk. “Sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020 lalu Indonesia sudah masuk 70 persen, Jadi diperlukan persiapkan generasi yang mampu wujudkan Indonesia Emas pada 2045 nanti,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Tenny Calvenny Soriton yang hadir dalam seminar nasional, mengatakan seminar Nasional ini disampaikan suatu konsep kebijakan dan strategi untuk memetakan kondisi kependudukan dan mengintegrasikannya dalam pembangunan terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Ada berbagai isu kependudukan yang menjadi pokok bahasan dan yang melatar belakangi kegiatan ini diantaranya isu kualitas manusia dan isu kependudukan berikutnya adalah penataan persebaran penduduk dan dan data kependudukan,” kata Tenny.

Dijelaskan, isu kualitas manusia juga terkait dengan unsur terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Dimana kualitas manusia ditentukan, mulai dari fisiknya, pengetahuan dasarnya dan yang terpenting adalah karakternya.

“Sementara persebaran penduduk melalui migrasi merupakan suatu reaksi atas kesempatan ekonomi pada suatu wilayah juga berpengaruh terhadap struktur keluarga, pola hidup, pengasuhan anak, dan pola fertilitas,” katanya. (*)

Editor: Jajad