Warga Poso Rayakan Lebaran Ketupat

  • Whatsapp
Suasana lebaran ketupat di rumah salah satu warga di Desa Pantangolemba Poso Pesisir. FOTO: IST

BANGGAI RAYA – Suasana silaturahmi saling mengunjungi antar sanak keluarga pasca Idul Fitri 1443 Hijriah hingga Minggu (8/5/2022), masih sangat terasa. Terlebih lagi sudah menjadi sebuah tradisi di hari ketujuh Idul Fitri, bagi sebagian besar masyarakat menggelar lebaran ketupat atau Syawalan.

Tradisi lebaran ketupat ini umumnya digelar seminggu pasca perayaan Idul Fitri. Umumnya tradisi turun temurun ini banyak ditemukan di masyarakat Jawa dan Gorontalo. Namun belakangan tradisi lebaran ketupat sudah umum digelar di sejumlah daerah setiap tahunnya.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya yang dilaksanakan keluraga besar Siid Zainal di Desa Pantangolemba, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Minggu (8/5/2022). Lebaran ketupat sudah menjadi ajang silaturahmi penutup pasca lebaran Idul Fitri.

“Sudah seminggu ini kita terus melakukan silaturahmi kepada kerabat dan keluarga sejak lebaran Idul Fitri. Hari ini merupakan penutupan dari semua rangkaian silaturahmi dalam sepekan, yang ditandai dengan lebaran ketupat,” ujar Jamal yang rumahnya menggelar lebaran ketupat tahun ini.

Menurutnya, mereka yang datang kebanyakan adalah kerabat dan keluraga dekat sekaligus bersilaturahmi di hari lebaran. Namun yang namanya lebaran ketupat, siapa saja boleh datang bersilaturahmi seraya menikmati menu yang disajikan.

“Ini sudah menjadi tradisi dalam keluarga besar kami untuk saling kunjung mengunjungi dan berkumpul bersama di hari raya Idul Fitri setiap tahunnya,” akunya yang diamini Fitri.

Sementara salah seorang keluarga lainnya Novita Andi menambahkan, tradisi berkumpul bersama keluarga di setiap Idul Fitri sudah menjadi tradisi turun temurun bagi keluarganya.

“Tahun ini serasa belum lengkap karena keluarga yang dari Gorontalo dan Palu tidak sempat datang. Biasanya keluarga besar kami semua berkumpul di Poso. Baik yang dari Palu, Gorontalo dan juga Tentena. Mungkin karena Covid sehingga warga belum sepenuhnya leluasa untuk bepergian,” tandasnya.

Disinggung soal menu khas yang disajikan dihari nan fitri ini, Novita menyebut seperti warga pada umumnya, sajian daging ayam dan sapi masih menjadi andalan. Menu ayam bakar, opor ayam dan kari serta sate garo masih menjadi menu khas plus sajian ketupat dan burasa.

“Namun soal menu bukanlah persoalan utama. Yang terpenting kami selalu berkomunikasi dan terus menjaga tali silaturahmi. Itu yang utama,” kuncinya.

Hal senada juga diungkapkan Abdullah. Baginya suasana kumpul keluarga saat lebaran yang ditandai dengan silaturahmi, menjadi pemandangan tersendiri setiap tahunnya.

“Karena saat lebaran biasanya semua keluarga lengkap berkumpul tanpa terkecuali. Momen ini jarang terjadi di hari hari biasanya. Bahkan kadang keluarga yang jauh datang dan melepas rindu karena lama tidak bertemu. Inilah indahnya lebaran dan nikmatnya kebersamaan dengan terus menjaga silaturahmi antar kerabat dan sanak keluarga,” pungkasnya.

Selain menggelar lebaran ketupat, sebagian masyarakat Jawa yang ada di Poso juga memanfaatkan momen ini untuk menggelar sejumlah atraksi seni seperti kuda kepang dan tari tarian. (*)

Sumber: Mercusuar (TMG)

Pos terkait