Tuai Pro-Kontra Tiadakan Salat Jumat, Ini Penjelasan MUI Banggai

  • Whatsapp

BANGGAI RAYA– Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banggai terkait peniadaan sementara penyelenggaraan Salat Jumat berjemaah di masjid dan menggantikannya dengan Salat Zuhur di rumah masing-masing menuai pro kontra di tengah-tengah masyarakat.

Fatwa MUI itu tercantum dalam Surat Edaran (SE) MUI Kabupaten Banggai bernomor 078/MUI/BGI/III/2020  tentang penyelenggaraan ibadah dalam situasi terjadinya wabah Virus Corona atau Covid-19 di wilayah Kabupaten Banggai. Surat edaran itu ditandatangani Ketua Umum MUI Banggai, Drs. H. Zainal Abidin Alihamu, MA., dan Sekretaris  Umum, Zaenal Abidin S.Ag., M.Ag tertanggal 26  Maret 2020.

Bacaan Lainnya

Menanggapi pro kontra di tengah masyarakat, Ketua Komisi Fatwa dan Kajian, MUI Kabupaten Banggai, KH. Muhammad Muadz Lc menjelaskan, banyak dahlil yang menjadi dasar dan pertimbangan keluarnya fatwa tersebut.

“Pertama, Allah SWT berfirman: janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Kebinasaanya apa di sini? Jelas kalau orang kena virus Corona bisa setres. Ada juga yang sakit gara-gara mikirin virus ini. Psikologinya rusak. Ada juga hadits: jangan lakukan keburukan baik kepada orang lain maupun diri sendiri,” kata KH. Muhammad Muadz Lc kepada Banggai Raya, Jumat (27/3/2020).

Kemudian sambung Muadz, Nabi Muhammad SAW bersabda, jika ada suatu wabah penyakit di tempatmu, jangan keluar ke tempat lain. Dan kalau ada wabah penyakit terjadi di luar, jangan dia masuk ke daerahmu. “Itulah yang dinamakan Lokdown. Jadi lokdown itu sudah ada di zaman nabi,” tuturnya.

Fatwa peniadaan sementara Salat Jumat di masjid kata Muadz, sifatnya hanya sementara dan belaku untuk dua Jumat. Nanti di Jumat kedua, MUI Kabupaten Banggai akan kembali melakukan rapat membahas tentang kelanjutan fatwa tersebut. Apakah akan dilanjutkan, atau disetop. Semua tergantung situasi yang ada.

Ditanya kenapa peniadaan  salat berjemaah hanya untuk Salat Jumat dan salat fardu tidak, menurut Muadz, pada Salat Jumat menghadirkan semua laki-laki. Di mana tingkat kepadatannya dalam Salat Jumat sangat tinggi ketimbang salat fardu. Sehingga risiko penyebaran Covid-19 itu sangat tinggi.

“Apalagi Luwuk ini daerah transit, banyak orang-orang luar yang singgah. Beda dengan salat fardu. Kalau Jumat pasti orang yang lewat dari mana pun akan singgah. Iya, ini kota transit, ada dari Ampana, Balut, Bangkep, Taliabo, Morowali Utara, Makassar, belum lagi dari luar negara karena adanya perusahaan. Sehingga untuk Jumat ini kita cegah dulu,” jelasnya.

Disinggung belum adanya kasus positif Covid-19, Ia menegaskan, bahwa MUI Banggai mengeluarkan fatwa sebagai upaya pencegahan. “Apa kita mau tunggu nanti ada yang positif, nanti ada yang meninggal karena Corona baru keluarkan fatwa. Itu tidak ada manfaatnya. Ini tindakan pencegahan,” tekan Muhammad Muadz.

Menurut Muhammad Muadz, wabah penyakit ini akan menjadi rahmat bagi umat-umat Islam. “Aisyah bertanya kepada Nabi, ya Rasulullah, bagaimana wabah ini? Kata nabi itu adalah sesuatu yang Allah SWT turukan menjadi azab bagi orang kafir dan akan menjadi rahmat bagi umat Islam. Siapa yang dia tinggal di rumahnya dengan sabar, meskipun tidak kerja, meskipun banyak keinginan, maka kesabarannya itu akan mendapatkan pahala sama seperti orang mati syahid,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Muhammad Muadz yang juga Pimpinan Ponpes Daarul Hikmah Luwuk itu berpesan kepada umat Islam, agar tidak takut dengan ibadah yang saat ini harus dilaksanakan di rumah karena adanya wabah Covid-19. “Tetap Allah tulis jemaah meskipun kita salat di rumah. Allah tetap hitung langkah kaki kita ke masjid, walaupun salat di rumah, apalagi di rumah bisa berjemaah bersama anak istri,” tandasnya.

Adapun isi fatwa yang dikeluarkan MUI Banggai sebagai berikut: Pertama pemerintah wajib melakukan pembatasan super ketat terhadap keluar masuknya orang dan barang ke dan dari Kabupaten Banggai, kecuali petugas medis dan yang berkepentingan serta barang kebutuhan pokok dan keperluan emergency.

Umat Islam wajib mendukung dan menaati kebijakan pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai yang melakukan isolasi dan pengobatan terhadap orang yang terpapar Covid-19, agar penyebaran virus tersebut dapat dicegah.

Kemudian, MUI Banggai menyerukan kepada umat Islam untuk sementara waktu agar tidak menyelenggarakan Salat Jumat dan menggantinya dengan salat zuhur berjemaah di rumah masing-masing.

Dengan merebaknya Virus Corona ini, Umat Islam  diminta agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istigfar, zikir, dan membaca qunut  zanilah setiap salat fardhu. Memperbanyak salawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan keselamatan daru musibah dan marabahaya khususnya wabah Covid-19.

Edaran ini berlaku sejak ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari membutuhkan penyempurnaan akan disempunakan sebagaimana mestinya. JAD