Tragedi Kanjuruhan, Tidak Ada Pertandingan Seharga Nyawa

Oleh : Putri Yulinar Ibrahim, S.M (Aktivis Komunitas Sahabat Hijrah)

Pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya menimbulkan duka mendalam bagi dunia pesepakbolaan Indonesia. Ratusan Aremania dinyatakan meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka akibat kejadian ini.

Jumlah korban meninggal dunia akibat kerusuhan yang terjadi pasca-pertandingan antara Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022) bertambah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo mengungkapkan hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia sebanyak 130 orang. Kemudian untuk korban luka-luka bertambah dari 180 orang menjadi 191 orang.

Kepolisian membeberkan alasan menembakkan gas air mata ke arah suporter usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta mengatakan bahwa pertandingan sebenarnya berjalan lancar. Namun ketika laga berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa.

Tragedi Kanjuruhan ini menjadi berita yang tersebar di seluruh dunia. Kerusuhan dalam stadion sepak bola bukan pertama kali terjadi hanya di Indonesia, tetapi juga pernah terjadi di berbagai negara lain yang menjadi saksi bisu tragedi yang menyesakkan di dunia olahraga ini.

BACA JUGA:  Naik Turunnya Keuangan Syariah: Refleksi Ketidaksempurnaan

Kerusuhan yang terjadi di Kanjuruhan adalah potret buruk fanatisme golongan, yang sudah berulang terjadi, kali ini adalah yang paling parah akibatnya. Dan Ini tragedi sepak bola terbesar di dunia dalam 20 tahun belakang yang sekarang terjadi di Indonesia. Sehingga, menjadi duka mendalam bagi kita semua rakyat indonesia.

Perlu kita perhatikan tragedi kanjuruhan yang memakan banyak korban ini akibat fanatismenya para suporter. Kita ketahui di olahraga sepak bola pasti melahirkan suporter di setiap klub, sehingga menang ataupun kalah berkaitan dengan harga diri dan ambisi. Jadi wajar saja di setiap pertandingan sepak bola pasti ketika tim pilihan mereka kalah maka para suporter tidak akan terima dan marah sehingga memunculkan kerusuhan.

Di sisi lain, tragedi ini menunjukkan tindakan represif aparat dalam menangani kerusuhan yang terjadi.

Hal ini dibuktikan pada penggunaan gas air mata, yang sejatinya dilarang penggunaannya dalam pertandingan sepak bola. Tetapi para aparat tetap menembakan gas air mata pada lapangan hijau yang memicu kepanikkan para penonton dan berlari untuk keluar stadion. Dan terjadinya penumpukkan pada satu pintu sehingga banyaknya yang meninggal karena sesak napas, dan terinjak.

BACA JUGA:  Suami di Luwuk Selatan Tega Aniaya Istri Pakai Obeng Hingga Tak Sadarkan Diri 

Jelas, gas air mata bukan solusi dalam menangani kerusuhan apalagi dalam pertandingan olahraga ini. Aturan FIFA Stadium Safety and Security, pasal 19 huruf B menyebutkan larangan penggunaan gas air mata di stadion.
Dan, para suporter bukan satu-satunya yang harus di salahkan, tetapi juga salahnya penanganan dari aparat dalam menangani kerusuhan dalam standion.

Tidak ada nyawa seharga pertandingan, sepak bola hanyalah olahraga tetapi terus terjadi kerusuhan yang memakan korban. Tragedi ini tak akan terjadi ketika fanatisme tak menjadi acuan dan aparat bertindak tepat dalam mengatasi persoalan.

Negara memiliki peran penting dalam memberikan rasa nyaman dan aman pada penonton begitu juga dengan aparat seharusnya bertugas melakukan pengamanan, yang juga mestinya bisa mengendalikan diri dan emosi dalam menghadapi kericuhan massa.

BACA JUGA:  Wisatawan Asal Jakarta Tujuan Danau Ubur-Ubur Bokan Kepulauan Karam di Perairan Matanga

Dalam Islam kita di perbolehkan berolah raga jika itu untuk kesehatan dan kebugaran tubuh kaum muslim, dan dalam Islam tidak di boleh melakukan permainan yang sia-sia apabila sampai terjadi kerusakan dan juga memakan korban jiwa.

Imam Asy-Syathibi menyatakan, “Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.”

Selanjutnya beliau menambahkan, “Namun demikian, hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan, mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi.”

Islam juga melarang sikap fanatik, apalagi fanatik terhadap perkara dunia yang tidak ada hubungannya dengan Akhirat. Juga, dalam Islam tidak membenarkan kehilangan nyawa hanya karena permainan. Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya dunia ini dan seisinya hancur lebur itu lebih ringan di sisi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak,”. (*)

Pos terkait