Tombiobong, Suku Terasing Loinang (Bagian 1)

  • Whatsapp

Oleh: DR. Yustiyanty Monoarfa, SP, M.Kes (Direktur Akper Luwuk)

Subuh itu kami dikejutkan dengan anak kecil usia 9 tahun yang tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang salat berjamaah. Seorang pria dewasa langsung menggotong anak tersebut ke pustu yang terletak di samping mesjid kecil tempat kami salat di dusun terpencil Tombiobong.

Beberapa hari sebelum kejadian subuh itu, saya ditelepon oleh salah seorang dokter di bangsal anak RSUD Luwuk yang memberitahu ada anak dari Dusun Tombiobong dengan kondisi hemoglobin 2 gr/dL (yang normalnya 12 gr/dL) yang terpaksa harus ditransfusi untuk meningkatkan sel darah merahnya. Anak malang itu belum punya kartu SKTM, sehingga orang tuanya tidak mau merawat anaknya berlama-lama di rumah sakit karena tidak punya biaya untuk berobat.

Dua kisah tadi hanya sepenggal dari berpuluh-puluh atau bahkan beratus kejadian kondisi kesehatan dan gizi yang memprihatinkan dari anak-anak Dusun Tombiobong.

Dusun itu terletak nun jauh terpencil. Untuk mencapai dusun tersebut, menempuhnya harus menyeberangi 3 sungai sejauh 3 Kilometer.

Hanya mobil model double cabin yang bannya besar-besar yang bisa melewati sungai berbatu besar dan lumayan tajam. Bila ingin jalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua, bisa dengan melalui jembatan gantung. Kalau kesana terasa seperti berpetualang.

Di dusun itu bermukim para penduduk Suku Terasing Loinang. Ya, mereka memang terasing karena terpencil. Konon, tadinya mereka tinggal di bukit-bukit dan kemudian mulai diturunkan satu per satu ke sebuah dusun yang dinamakan Tombiobong.

Mereka berbahasa Saluan. Mereka penduduk asli Kabupaten Banggai yang punya karakter unik. Dusun ini memiliki 27 KK dengan jumlah jiwa 139 orang. Pekerjaan utama penduduk adalah mencari rotan di hutan. Makan sehari sekali adalah hal yang lazim di dusun tersebut. Yang dimakanpun adalah hasil kebun berupa ubi yang dibakar dan daun ubi yang direbus.

Jangan membayangkan penduduk makan sayuran selain daun ubi karena memang hanya sayuran tersebut yang dibudidayakan penduduk Tombiobong. Mereka juga tidak mengenal yang namanya BARITO (Bawang Rica Tomat, istilah orang Luwuk). Selain itu tak usah kaget bila mendapati nama-nama tak lazim yang dimiliki para penduduk. Kepala suku misalnya, punya nama unik yakni Pesawat, demikian juga ada warga bernama Dinas, Landasan, Filipina, Tugas, Harapan, Alamat, Palu, Manado, Selatan, Israel, Sayang bahkan Pensil. Yang bikin tambah kaget, ada lelaki kekar yang saat itu membantu mangangkat batu kali dan pasir, ketika dipanggil ternyata namanya “Rembulan”.

Yah, segala keunikan bisa ditemukan di dusun yang masuk wilayah Kecamatan Batui Selatan ini.

Beberapa pekan terlahir ini kami sering berkunjung dan bermalam di dusun tersebut. Bila kondisi cuaca bagus, untuk mencapai dusun ini, kami menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari kota Luwuk. Kami selalu membawa bahan pokok untuk bekal semalam dua malam sekaligus untuk anak-anak di dusun tersebut.

Saat sore berganti Magrib kami tiba di tujuan. Suasana Tombiobong layaknya desa pedalaman. Jalanan belum beraspal, listrik belum ada. Syukurlah sudah ada Poskesdes lengkap dengan bidannya yang bertugas melayani kesehatan warga di dusun ini.

Di Poskesdes yang kami singgahi ada mesin gensetnya, sehingga dengan berbekal bensin 10 liter lumayan untuk menerangi Poskesdes dan mesjid kecil yang saling berdekatan selama semalaman.

Malam itu ibu bidan dan guru PAUD yang ditempatkan di Tombiobong menyajikan mie kuah dengan telur yang didadar. Rasanya luar biasa nikmat karena dimakan beramai-ramai dengan beberapa penduduk kampung. Malam berudara dingin, kami tidur di ruang tengah poskesdes.

Saat Subuh menjelang, terjadilah insiden yang menimpa anak kecil di mesjid seperti yang saya ceritakan di atas. Setelah dibawa ke poskesdes, ketahuan bila anak itu tidak makan malam sebelumnya. Kami menduga anak tersebut lapar dan anemis. Oleh bidan anak malang tersebut dikasih nasi sepiring tanpa lauk yang langsung dihabiskan dengan lahapnya. Segera kami berinisiatif menggoreng telur dadar dan membuatkan segelas susu untuk anak itu. Semuanya dihabiskan anak itu dengan cepat. Pertanda memang benar-benar lapar.

Pagi itu bertepatan dengan kunjungan posyandu dari Puskesmas Sinorang. Bersama-sama petugas puskesmas, kami memeriksa kesehatan para bayi, balita dan ibu hamil, mengukur status gizi dan status anemi. Maka kagetlah kami, rata-rata kadar Hemoglobin (sel darah merah) setiap balita di sana di bawah 10 gr/dL (dari yang normalnya 12 gr/dL), bahkan ada yang hanya 5 gr/dL. Langkah antisipasi segera diambil. Intervensi gizi harus dimulai hari itu juga, tak boleh ditunda.

Pagi itu para Ibu Aisyiah yang juga ikut dalam ekspedisi ini, membantu membuatkan nasi dan menggoreng telur untuk diberikan pada anak-anak balita yang berkunjung ke Poskesdes. Di nasi anak-anak balita kami menaburkan bubuk Taburia yang mengandung 14 macam vitamin dan mineral. Bubuk taburia itu akan sangat berguna untuk meningkatkan kadar sel darah merah anak-anak balita tersebut. Di samping itu, kamipun memberi susu pertumbuhan spesial untuk anak balita malnutrisi bantuan dari WHO.

Kondisi ini membuat kami bertekad untuk mengintervensi dusun ini dengan program perbaikan gizi balita dan anak-anak. Tentunya program ini harus ditunjang dengan program-program lainnya yang bisa membantu penduduk di dusun ini agar bisa keluar dari lingkaran kekurangan pangan dan pendidikan.

Alhamdulillah, saat ini pemberian makanan tambahan untuk balita setiap hari telah rutin dilaksanakan oleh Petugas Puskesmas Sinorang bersama organisasi Aisiyah Kabupaten Banggai.

Yang mendesak saat ini adalah pengadaan air bersih, pendampingan penduduk untuk bercocok tanam maupun peternakan, mengajari para ibu untuk bisa mengolah makanan lokal yg bergizi, pembangunan sekolah, pembuatan Kartu KIS, pembangunan jalan desa dan pengadaan listrik.
(Bersambung)

Pos terkait