Tobiombong, Suku Terasing Loinang (Bagian 2)

  • Whatsapp
Oleh : Dr. Yustiyanty Monoarfa, SP., M.Kes (Direktur Akper Luwuk)

Bajang, salah satu bocah Tobiombong berlari riang menuju bangunan kecil yang terletak 100 meter dari Poskesdes. Anak yang tanpa alas kaki itu menyusul teman-teman sebayanya yang sudah duluan mendatangi bangunan kecil bercat biru muda.

Matahari cerah hari itu. Embun masih tersisa beberapa titik di daun ubi yang tumbuh subur depan Poskesdes Tobiombong. Tak tampak tanda-tanda mendung, suatu hal yang dikhawatirkan para pendatang yang mengunjungi Dusun Tobiombong untuk melaksanakan agendanya adalah hujan. Karena bila hujan turun, dipastikan sungai yang menjadi perantara Dusun Tobimobong dan Desa Maleo Jaya akan meluap dan pasti kendaraan roda empat jenis double cabin pun tak akan bisa lewat menyebrangi sungai.

Bacaan Lainnya

Bu Inang, pengurus Aisiyah Banggai yang sejak pagi berada di bangunan kecil itu tersenyum senang melihat senyum cerah dari wajah polos bocah Bajang. Niatnya untuk mengunjungi anak-anak di dusun itu berjalan lancar tanpa hambatan alam. Segala logistik yang dibawa dari Luwuk bisa tersalurkan, termasuk baju seragam PAUD dan alat tulis menulis sumbangan dari beberapa dermawan.

Keceriahan bersama anak-anak Tobiombong. FOTO: ISTIMEWA

Ya, setelah beberapa kali ikut ekspedisi Tobiombong, bu Inang dan pengurus Aisyiyah lainnya terbersit untuk mendirikan PAUD Terpadu di dusun itu. Dengan berbekal semangat dan niat tulus untuk mencerdaskan anak-anak dusun, PAUD sederhana itu pun terbentuk.

Anak-anak riang karena kini hari-hari mereka lebih berwarna dengan hadirnya PAUD. Dengan memanfaatkan bangunan berukuran kecil yang tadinya adalah rumah singgah, maka di bulan Agustus 2019 mereka bisa belajar, bermain serta mengaji dibimbing oleh Ibu Inang dan kawan-kawan.

BACA JUGA: Tombiobong, Suku Terasing Loinang (Bagian 1)

Sebelum mulai kegiatan di PAUD, mereka terlebih dahulu dibawa mandi beramai-ramai ke sungai jernih yang melintasi dusun. Anak-anak menyusur jalan setapak ke arah sungai sambil menyanyi riang lagu Saluan “Kinyonyowa” yang diajarkan bu Inang.

Di sungai itu mereka diajari menyikat gigi dan mandi menggunakan sabun, suatu hal yang termasuk istimewa karena tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.

Saat ini, PAUD Terpadu Dusun Tobiombong memiliki murid sebanyak 12 anak. Dan Alhamdulillah PAUD itu kini telah memiliki Ibu Rahma, seorang guru tetap yang mengajar baca tulis hitung sekaligus mengaji. Honor mengajar diupayakan melalui sumbangan rutin Aisyiyah setiap bulannya. Yang unik, meski berjudul PAUD, tapi anak-anak yang bersekolah usianya telah melampaui PAUD, bahkan ada yang sudah 9 tahun.

Untuk warga dusun, kehadiran PAUD tersebut menjawab kebutuhan akan sarana pendidikan. Apalagi selama ini, untuk bersekolah SD hingga SMP, anak-anak harus menyeberangi tiga sungai dan berjalan berkilo-kilo meter untuk mencapai sekolah SD terdekat di Maleo Jaya. Demikian halnya untuk menjangkau sekolah SMP di Ombolu, anak Tobiombong harus melewati bukit, lembah dan hutan. Kondisi ini mengakibatkan anak-anak Tobiombong jarang yang bersekolah. Sehingganya, pepatah lama pun berlaku, tak ada rotan akar pun jadi, tak ada sekolah SD maka PAUD pun jadi.
(Bersambung)