Target Migas 1 Juta Barel Per Hari Sulit Tercapai

  • Whatsapp
Rudi Rubiandini saat berbicara dalam forum temu wartawan Banggai. FOTO: DOK.JOB TOMORI

BANGGAI RAYA- Target Pemerintah Indonesia untuk mencapai lifting migas sebesar 1 juta barel per hari pada tahun 2030 mendatang dinilai sulit tercapai. Penilaian tersebut disampaikan Rudi Rubiandini, mantan Kepala SKK Migas yang kini menjadi praktisi migas, dalam temu wartawan yang digelar SKK Migas Perwakilan Kalsul bersama Joint Operating Body Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) dengan puluhan wartawan, Senin (13/12/2021)  di salah satu hotel di Luwuk.

Ia mengatakan bahwa dengan produksi minyak yang saat ini berada di kisaran 700 ribu barel per hari maka untuk mengejar angka 1 juta di tahun 2030 akan sangat sulit. “Kalau hitungan saya, capaian angka 1 juta barel per hari itu berat ddan sepertinya tidak mungkin,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, Rudi mengatakan bahwa sebaiknya 1 juta itu bukan disebut sebagai target, namun sebagai keinginan atau bisa juga sebagai mimpi. Kalau disebut sebagai keinginan kata guru besar ITB itu, maka yang diambil adalah semangatnya.

“Kita ambil semangatnya saja soal keinginan 1 juta barel per hari itu, agar semua pihak bersemangat untuk mendorong tetap tumbuhya sektor hulu migas nasional melalui upaya untuk mendorong investasi maupun meningkatkan kemampuan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam mencari sumur baru, Jadi tidak usah fokus paada angkanya, melainkan pada semangatnya,” tekannya.

Ia juga mengatakan, ada hal yang harus diperbaiki oleh pemerintah dan DPR, termasuk peraturan terkait production sharing antara KKKS dengan pemerintah. Selama ini kata dia, perbandingan bagi hasil produksi antara kontraktor dan pemerintah  adalah 15 persen untuk kontraktor dan 85 persen untuk pemerintah.

“Mungkin sudah saatnya ada revisi peraturan perundang-undangan aagar persentase KKKS bisa naik semisal 20 persen, demi mendorong kenyamanan usaha hulu dan sekaligus memacu masuknya investasi baru,” jelas dia.

Kalau hal itu tidak dilakukan tekan Rudi, maka akan banyak kontraktor yang hengkang dan investor baru akan lebih memilih negara lain yang penawaran procution sharingnya lebih menarik. (*)

Penulis: Iskandar Djiada

Pos terkait