Susun Data Pokok Kebudayaan, Disdikbud Banggai Gelar Pemutakhiran serta Penyusunan Dapobud Saluan-Balantak-Andio

BANGGAI RAYA-Perkembangan zaman dan teknologi yang kian maju, membuat adat dan kebudayaan kerap dilupakan atau ditinggalkan. Kondisi ini kerap memunculkan ketersinggungan atau bahkan kemarahan, karena adat atau budaya yang dilanggar.

Karenanya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Banggai menggelar sosialisasi pemajuan kebudayaan, dengan tujuan untuk pemutakhiran serta penyusunan data pokok kebudayaan daerah dan pokok pikiran kebudayaan daerah Kabupaten Banggai Saluan, Balantak, Andio, Senin (5/6/2023) di salah satu hotel di Luwuk.

Saat membuka kegiatan, Kadisdikbud Banggai Syafrudin Hinelo mengatakan, kehadiran kita disini sebagai bentuk kepedulian kita bersama pada pelestarian adat dan kebudayaan. Hal-hal yang digali nantinya akan disusun menjadi dapobud atau data pokok kebudayaan tiga etnis yakni Saluan, Balantak dan Andio.

BACA JUGA:  Diguyur Hujan Sehari Penuh, Pusat Kota Luwuk Banjir Sampah dan Lumpur

Ia mengatakan, selama ini bila ada adat dan budaya yang dilanggar akan menimbulkan ketersinggungan. Karenanya, adat dan budaya itu harus terukur, dan kemudian disusun dalam format data pokok kebudayaan. Dapobud ini akan berperan penting sebagai dokumen untuk pemajuan kebudayaan.

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga nara sumber dari Andio, Saluan dan Balantak. Nara sumber Andio Dr Tasman Malusa memaparkan data pokok kebudayaan dari etnis Andio.

BACA JUGA:  Swadaya, Warga Jaya Makmur Bangun Jalan Kantong Produksi untuk Mudahkan Angkut Hasil Pertanian 

Ia mengatakan, Andio sebagai etnis tersendiri di Kabupaten Banggai memiliki adat istiadat, ritus, seni, olahraga tradisional, cagar budaya antara lain benteng Rajawali, sumur tua Van Beek, gereja tua Simpangan, masjid dan sumur tua di Tangeban dan sebagainya.

Andio juga memiliki makanan tradisional, keterampilan tradisional dan pranata kebudayaan.

Pada kesempatan itu, Dr Tasman sempat menggambarkan sejumlah kebudayaan mulai dari alat musik seperti poponting, talindo, kulintang, kukuak, atau morerengkui (lesung) padi yang dijadikan alat musik, hingga olahraga tradisional seperti kontau dan lainnya.

BACA JUGA:  Kapolsek Pimpin Bersih-bersih Jalanan Kota Luwuk Usai Banjir Kemarin 

Dari Balantak, paparan dapobud disampaikan Wister Katili. Ia menyampaikan soal adat dan budaya Balantak yang banyak ditinggalkan, seperti prosesi lamaran yang lebih banyak bicara soal biaya, sehingga substansi pembicaraan budaya sudah diabaikan. Ia menyebut bahwa di Balantak sudah ada Kamus bergambar.

Sementara Suparman dari etnis Saluan memaparkan soal budaya dan bahasa Saluan yang juga harus dijaga bersama. DAR

Pos terkait