Sosialisasi dan Edukasi Paling Efektif Cegah Berita Hoaks Berbasis Media Sosial

BANGGAI RAYA- Sosialiasi dan edukasi kepada masyarakat, menjadi senjata paling ampuh dan efektif dalam mencegah berita-berita hoaks berbasis media sosial. Sehingga apa yang dilakukan Bawaslu Banggai dengan menggelar sosialisasi kepada wartawan dan perwakilan Parpol, sudah sangat tepat dan efektif.

Hal itu diungkapkan Iskandar Djiada, Ketua PWI Banggai saat memberikan materi sosialisasi tentang Pencegahan Berita Hoaks Berbasis Media Sosial, Kamis 25 Januari 2024, di Hotel Santika Luwuk.

“Edukasi atau sosialisasi, menjadi langkah paling efektif ,sehingga apa yang dilakukan Bawaslu Banggai sudah sangat tepat. Ini jadi bagian pencegahan berita hoaks,” kata Iskandar Djiada.

Di awal pemaparannya, Iskandar Djiada menjelaskan perbedaan atau pengertian media dan media sosial. Media seperti Koran, majalah, media eletronik dan online merupakan media mainstream atau media arus utama.

Media ini aturan mainnya sangat jelas, karena memiliki badan hukum yang resmi. Kemudian, media kerja di bawah control undang-undang pers nomor 40 1999.

BACA JUGA:  Rayakan Iduladha 1445 Hijriah, DSLNG Berbagi Kurban 17 Ekor Sapi

“Media berada di bawah naungan dewan pers, dan sejak 2011 semua wartawan diwajibkan untuk ujian sertifikasi atau UKW. Jadi media itu jelas, kalau ada yang narasumber yang mengadu, media wajib membuka hak jawab,jika tidak bisa diadukan ke dewan pers atau pihak berwajib,” jelas Iskandar Djiada.

Memberikan penjelasan soal media, Iskandar berharap tidak ada yang salah mengartikan apalagi memaknai bahwa media dan media sosial itu sama. “Kalau media sosial itu, bekerja hanya di bawah platform internet. Yang penting ada internet, bebas bermedia sosial,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan kepada peserta, jika ada wartawan yang tidak berkompeten dalam hal ini belum mengikuti UKW, narasumber bisa menolaknya.

Berbeda lagi dengan media sosial, yang begitu masif informasi-informasi hoaks. Bahkan kejahatan dinilai lebih cepat daripada aturan yang dibuat negara.

BACA JUGA:  Wisatawan Asal Jakarta Tujuan Danau Ubur-Ubur Bokan Kepulauan Karam di Perairan Matanga

“Saat ini UU ITE terus mengalami revisi, karena memang pergerakan di internet itu luar biasa.Seperti podcast, selama ini belum tersentuh di aspek hukum dalam UU ITE tadi. Sehingga terus melakukan perubahan,” katanya.

Masifnya penyebaran berita atau informasi hoaks di media sosial, perlu perhatian serius semua pihak, utamanya Bawaslu Banggai dalam menghadapi Pemilu ini.

“Karena berdasarkan data, saluran penyebaran terbesar hoaks itu melalui media sosial. Sehingga ini harus menjadi titik perhatian. Kalau kampanye di lapangan, tentu lebih mudah dikontrol dibandingkan dengan di media sosial,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu,Ia juga memberikan contoh informasi hoaks yang terjadi di media sosial bahkan yang menjadi korban adalah elit salah satu partai yakni Ibu Amalya Murad, Caleg DPR RI.  Kejadian itu sekitar beberapa pekan lalu.

“Ibu Amalya dituding adalah orang yang ribut di debat Capres, mengeluarkan kata-kata yang tidak layak, dan itu beredar masif di media sosial. Dalam postingan, seolah-olah ibu Amalya,” kata Iskandar Djiada.

BACA JUGA:  Naik Turunnya Keuangan Syariah: Refleksi Ketidaksempurnaan

Dalam penyebaran ini, media sosial lambat merespon penyebaran hoaks tersebut, namun justru media mainsteam yang melakukan klarifikasi lebih cepat. “Sejumlah media mengklarifikasi informasi itu, baik media lokal, provinsi, bahkan nasional.  Masih banyak contoh-contoh lainya,” jelasnya.

Ada beberapa langkah yang bisa diambil, dalam melihat informasi, apakah informasi itu benar atau hoaks. Pertama, bisa melihat sumber penyebaran informasinya, kedua mencari referensi kebenaran dari media.

“Biasa kalau penyebaran informasi hoaks itu, dilakukan oleh akun-akun yang tidak jelas. Akun menggunakan nama samaran dan telah dirancang untuk melakukan hal-hal seperti itu,” tandasnya.

Olehnya, Ia berharap kepada peserta yang hadir dalam sosialisasi ini untuk bisa menyebarluaskan bagaimana upaya-upaya dalam pencegahan berita hoaks. (*)

Pos terkait