‘Siang Seribu Matahari’

  • Whatsapp
OLEH: SUTOPO ENTEDING

Setelah sukses menulis buku ‘Basusupo di Bulan Ramadan’, kali ini, penulis buku yang memberi judul identik dengan tutur masyarakat lokal, H. Iswan Kurnia Hasan, Lc, MA kembali menyelesaikan buku keduanya. Judulnya bertajuk ‘Siang Seribu Matahari’.

Apa isinya? Berikut catatan kecil sinopsis buku Siang Seribu Matahari, kontemplasi hadits-hadits Nabawi. Buku ini sangat tepat dijadikan sebagai literatur dalam melaksanakan ibadah, karena ditulis berdasarkan hadits-hadits nabawi.

Bacaan Lainnya

Sebab, Hadits Nabawi adalah segala yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (taqrir Rasulullah SAW yaitu persetujuan atau mendiamkannya atau tidak menyanggah oleh Nabi Muhammad akan suatu perkara yang dilakukan oleh sahabat baik berupa perkataan atau perbuatan atau sifat).

Berikut sedikit penampakan isi buku ‘Siang Seribu Matahari, Kontemplasi Hadits-Hadits Nabawi’,

Sepuluh terakhir Ramadan memiliki sebuah malam pamungkas. Malam itu disebut lailatul qadar. Malam terbaik dari seluruh malam yang ada dalam satu tahun penanggalan hijriah. Satu malam yang harganya sama dengan ibadah selama seribu bulan.

Apakah waktu siang dalam satu tahun hijriah juga memiliki siang yang agung? Siang yang terbaik? Siang al-Qadar? Siang yang kualitas ibadah di dalamnya seperti melaksanakan ibadah selama seribu matahari?

Syaikh al-Islâm Ibnu Taimiyah dalam buku Majmû’ al-Fatâwâ disebutkan juga pernah ditanya, “Manakah hari yang terbaik di atas muka bumi? Apakah hari Arafah, hari Jumat, Hari raya Idul Fitri atau Idul Adha?” “Siang Seribu Matahari; Kontemplasi Hadis-Hadis Nabawi” adalah sebuah bunga rampai hasil perenungan warisan Rasululullah dalam bentuk hadits yang dibumikan dengan kondisi saat ini.

Buku ini bisa menjadi bekal tazkirah saat senggang, panduan ceramah di mimbar, modal khutbah saat Jumat, kumpulan nasihat buat keluarga dan khazanah tambahan ilmu keislaman.

Buku setebal 300 halaman yang diterbitkan penerbit Era Adicitra Intermedia, Jawa Tengah ini tidak berbab. Praktis, hanya dalam bentuk sebuah tulisan. Tulisan-tulisan itu berjumlah 37 tulisan. Tentu, seluruh tulisan ini disandarkan pada hadits-hadits nabawi.

Iswan Kurnia Hasan, sang penulis buku ini adalah jebolan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Founder sekaligus Direktur Alquran Institute Banggai ini selain mubalig, dia juga pegiat kemanusiaan.

Tulisan pertama di buku ini diberi judul, Rahmatan Lil Alamin, dilanjutkan dengan tulisan kedua diberi tajuk, Ramadan Tukang Sepatu Damaskus dan tulisan ketiga adalah Allah Yang Tidak Egois.

Sementara tulisan ke 37 diberi judul, Kalah Tempur, Menang Perang. Koq, bisa ya? Yuk baca bukunya, agar tidak penasaran bukan?

Pos terkait