Ramai Pro Kontra Soal ‘Wisuda’ TK-SMA, Ini Kata Ustadz Muadz Pimpinan Ponpes Daarul Hikmah

PIMPINAN PONPES Daarul Hikmah Luwuk, KH. Muhammad Muadz Lc., M.Hi., menyerahkan piagam penghargaan kepada peserta wisudawan terbaik. FOTO:FORKOPIMDA BANGGAI

BANGGAI RAYA- Belakangan ini, ramai berseliweran status pro dan kontra soal pelaksanaan wisuda dan penamatan yang digelar tingkat TK hingga jenjang SMA. Wisuda yang mengharuskan memakai atribut toga itu dinilai cukup memberatkan orangtua.

Ramainya pro dan kontra soal wisuda, ternyata menarik perhatian sejumlah kalangan. Salah satunya adalah Pimpinan Ponpes Daarul Hikmah Luwuk, KH. Muhammad Muadz Lc., M.Hi.

Melalui beranda sosial facebooknya, ustadz kondang di Kabupaten Banggai itu membuat sebuah tulisan yang dengan judul ‘Wisuda antara Wis dan sudah.

Ia mengulas dan memberikan penjelasan tentang wisuda. Ia menulis, akhir-akhir ini di Luwuk ramai status tentang Wisuda.

“Hmmm… Saya anggap lambat baprotes karena di Jawa hal ini dibicarakan 22 tahun lalu waktu saya wisuda Aliyah (SMA) di Ponpes Husnul Khotimah. Jadi saya rada berfikir… Kenapa saat orang di kota_kota besar melaksanakan acara itu dgn Varian namanya,” tulisnya, baru-baru ini.

BACA JUGA:  Naik Turunnya Keuangan Syariah: Refleksi Ketidaksempurnaan

Varian nama kegiatan wisuda dimaksud diuraikan Ustadz Muadz antara lain, Wisuda, Penamatan, Pelepasan, Haflah takharruj, Haflah ikhtitam, Wisuda Quran, Wisuda Hafizh dan Tahfizh. Tapi esensinya sama yaitu sama_sama melepaskan anak murid,” sambungnya.

Di zaman serba cepat, canggih dan media sosial yang ramai semua serba diabadikan dan dikenang maka semua diacarakan. Tak heran semua memesan kameramen khusus agar bisa di-share dan sedangkan dulu tidak ada yang namanya FB,IG,WA dll maka wajar tuntutan itu tidak ada.

“Dan wisuda tidak mempengaruhi output hasil pendidikan. Tidak membuatnya menjadi “tidak pintar” ataupun merugikan karena yg mempengaruhi peningkatan knowledge_anak-anak adalah Keaktifan guru,jelasnya kurikulum,sarana pendidikan dan ketekunan peserta didik,” katanya.

BACA JUGA:  Meneropong Keadilan Islam dalam Kasus Vina, Sebelum 7 Hari: Sebuah Refleksi Hukum dan Moral

Bicara soal biaya kata Ustadz Muadz, pembayaran wisuda biasanya inlcude dalam pembiayaan kelas akhir setiap jenjang pendidikan. Mulai dari ujian_ujian (Madrasah, Pondok,Thafizh dan Hadits). Les-les semua mapel yang diujiankan sampai ke jenjang wisuda dan penulisan ijazah (Madrasah,pondok dan Tahfizh).

“Lalu Klo mau dirinci Wisuda dan berbagai macam yg diserahkan dlm wisuda (Plakat,slendang,konsumsi,foto-foto prosesi,dll) itu hanya sekitar Rp200.000-an saja,” jelasnya.

Tentu saja kata ustadz, lebih banyk dana yang dipakai jika anak-anak diajak jalan ke tempat wisata apalagi syukuran tentu memakan lebih banyak lagi anggaran.

“Kalau ukurannya bahwa wisuda adalah setelah selesai S1, maka saya pun bisa protes karena saya sedang mengambil S3, maka alangkah baiknya nanti wisuda jika telah selesai S3. Karena wisuda ini dari bahasa Jawa yaitu WIS yang berarti Sudah. Maka disingkat menjadi wisuda yang artinya sudah tidak ada lagi jenjang pendidikan formal di atasnya,” tulisnya.

BACA JUGA:  Wisatawan Asal Jakarta Tujuan Danau Ubur-Ubur Bokan Kepulauan Karam di Perairan Matanga

Namun yang dimaksud wisuda adalah sudah selesainya jenjang ini maka akan lanjut ke jenjang berikut dengan sekolah, teman-teman, guru dan suasana yang baru lagi.

“Seharunya, yang perlu banyak diprotes kenapa anakku tidak belajar di sekolah.. Kenapa gurunya malas misalnya, Kenapa  dan kenapa lainnya yang tujuannya peningkatan mutu,” cetusnya.

“So…..Buat pemangku-pemangku lembaga pendidikan jalani dan kerjakan yang dianggap baik tanpa banyk melemahkan semangat mendidik dengan postingan orang dan opini liar tak berdasar,” tandasnya.

Postingan Ustadz Muadz ini mendapat banyak komentar dan telah dibagikan puluhan kali. Sejumlah warganet tampak sepakat dengat apa yang ditulis Pimpinan Ponpes Daarul Hikmah Luwuk. (*)

Pos terkait