Program Kosabangsa, UMLB Gelar Pelatihan Pembuatan Keripik Hingga Penentuan Harga Pokok Penjualan

BANGGAI RAYA- Tim Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai (UMLB) dari Fakultas Pertanian (Faperta) yang diketuai Ramadhani Chaniago dan Pendamping dari Universitas Muhammadiyah Malang, Untung Santoso merealisasikan program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa), selama tiga bulan.

Program yang dipusatkan di Desa Buon Mandiri Kecamatan Luwuk Utara Kabupaten Banggai, focus pada

pemberdayaan Kelompok Ibu-ibu Jalapagos. Adapun pelaksanaanya dimulai bulan September sampai November 2022 mendatang.

Ada empat pelatihan yang telah sukses dilaksanakan dalam rangka pemberdayaan masyarakat, khususnya kalangan kaum emak-emak.

Pertama, Pelatihan Pembuatan Keripik Pisang. Pelatihan ini dilakukan pada tanggal 27 September 2022.

Dalam pelatihan pembuatan keripik diikuti oleh 15 orang anggota yang dilaksanakan di salah satu lapak kelompok yang kebetulan lapak yang digunakan adalah lapak dari ketua Kelompok Jalapagos Desa Buon Mandiri, Karbia Budila.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan diawali dengan penyampaian materi yang disampaikan, oleh Darni Lamusu, S.TP, M.P Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Luwuk.

Dalam paparannya, Ia menyampaikan tentang kondisi dan potensi desa terkait dengan komoditi pisang merupakan komoditi yang banyak tumbuh di Desa Buon Mandiri dan berpotensi untuk diolah menjadi olahan makanan salah satunya adalah keripik.

Setelah itu pemateri menjelaskan tentang cara pembuatan keripik pisang yang diawali dengan pengupasan, pengirisan, perendaman dengan kapur sirih, penirisan, penggorengan, penirisan dari minyak kemudian pengemasan. Setelah memberikan penjelasan bagaimana cara pembuatan keripik pisang  selanjutnya dilakukan praktek pembuatannya.

BACA JUGA:  Momen Halalbihalal di Nambo, Bupati Banggai Bagikan Sertifikat Tanah

Dalam praktek pembutannya, kelompok ini menggunakan 2 metode saat sebelum penggorengan yaitu sebagian bahan dilakukan proses perendaman dengan kapur sirih terlebih dahulu dan sebagian lagi tidak dilakukan perendaman dengan kapur sirih atau langsung digoreng setelah dilakukan pengirisan pisang.

Dari kedua metode tersebut menghasilkan produk keripik pisang yang agak berbeda dari segi warna dan teksturnya bahkan rasa dan lama penggorengannya. Keripik yang langsung digoreng setelah pengirisan itu lebih baik hasilnya, maka kelompok memutuskan untuk menggunakan metode tanpa perendaman dengan kapur sirih sebelum dilakukan penggorengan.

Pelatihan Pengemasan Keripik Pisang

Setelah praktek pembutan keripik pisang selanjutnya dilakukan dengan kegiatan pengemasan produk keripik. Keripik yang telah dihasilkan kemudian dapat ditambahkan dengan varian rasa yaitu rasa manis, rasa balado, rasa milo, dan lain-lain. Setelah ditambahkan varian rasa selanjutnya dilakukan penimbangan produk keripik sebelum dimasukkan kedalam kemasan yang telah diberi label pada masing-masing kemasan. Pada kemasan terdiri dari 2 ukuran yaitu ukuran untuk 100 mg dan 200 mg, setelah dikemas menghasilkan 96 bungkus.

Harapan dari kegiatan pelatihan pembuatan keripik pisang dan pengemasannya adalah agar produk yang telah dihasilkan oleh kelompok ibu-ibu ini layak untuk dipromosikan dan dipasarkan sehingga produknya dapat dikenal oleh konsumen dan laku dipasaran.

BACA JUGA:  Kelulusan Siswa Kelas 12 Dari 24 SMK di Banggai Capai 99,35 Persen, 9 Tidak Lulus 

Pelatihan Penentuan HPP (Harga Pokok Penjualan)

Setelah melakukan pelatihan pembuatan keripik pisang dan pengemasannya, dilanjutkan dengan pelatihan tentang menentukan HPP atau harga pokok penjualan yang sangat menentukan untung atau rugi dari penjualan produk.

Pemateri dalam pelatihan ini adalah Bapak Abdullah. Ia adalah Kepala Cabang BMT (Baitul Maal Wa Tamwil) Al-Muhajirin Luwuk yang sudah lama menangani dan mewadahi UKM-UKM yang ada di kota Luwuk.

Dalam materinya, Ia menyampikan materi tentang bagaimana cara menentukan Harga Pokok sebelum produk dijual ke konsumen, dengan menjelaskan beberapa hal yang sangat terkait dengan harga pokok yaitu (1) biaya pembelian bahan baku yang terdiri bahan utama dan bahan tambahan, (2) biaya produksi yang terdiri dari bahan bakar/gas/kayu bakar, dan listrik (3) biaya kemasan dan promosi, (4) biaya tenaga kerja.

Setelah itu, pemateri langsung memberikan contoh kasus dari produk yang telah dihasilkan kelompok untuk dapat ditentukan harga pokok penjualannya sehingga dari simulasi tersebut kelompok ibu-ibu menyepakati harga pokok penjualan keripik pisang. Diakhir penjelasannya pemateri menyampaikan kepada anggota kelompok agar dapat melakukan survey harga untuk melakukan perbandingan harga dari produk keripik yang sudah ada dipasaran dengan produk yang dihasilkan.

BACA JUGA:  Berkas Tiga Bakal Calon Rektor Unismuh Luwuk Resmi Diserahkan ke PWM Sulteng

Selanjutnya kelompok harus menemukan bahan baku yang lebih murah dengan tetap mempertahankan kualitas produknya, melakukan efisiensi biaya produksi dan promosi, dan meningkatkan penjualan.

Harapan dari pelatihan ini adalah diharapkan kepada anggota kelompok dapat menentukan harga pokok penjualan atau harga modal produk sehingga dapat meminimalisir terjadinya kerugian akibat salah menentukan harga produk dari awal.

Pelatihan Distribusi Laba-Rugi

Pelatihan ini menjelaskan tentang bagaimana cara mengelola hasil dari penjualan produk, misalnya laba atau keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan produk harus ditahan sebesar minimal 30% dari laba usaha yang berfungsi untuk memperkuat modal usaha.

Selanjutnya penjelasan tentang gaji dapat dikeluarkan dari total laba adalah 50% dan dapat diambil untuk digunakan dalam kegiatan produksi agar menambah kekuatan usaha kelompok. Gaji diberikan kepada ketua atau anggota yang terlibat dalam seluruh kegiatan.

Pemateri menyarankan adanya tunjungan sosial bagi anggota kelompok usaha sebesar minimal 2% dan menghitung biaya tambahan peralatan dan lain-lain.

Harapan dari pelatihan ini adalah agar anggota kelompok dapat mendistribusikan keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan produk keripik pisang kearah yang lebih produktif sehingga dapat menjamin keberlangsungan usaha kelompok. (*)

Pos terkait