Persahabatan yang Mengguncang Indonesia

Oleh: Airlangga Pribadi

PADA 7 Februari lalu di Ruang Adi Sukadana FISIP Universitas Airlangga saya diundang oleh Bung Dandik Adhisura untuk menyaksikan soft launching film Yang Tak Pernah Hilang Film tentang kisah dua aktivis almamater kami di Unair Herman-Bimo yang sampai saat ini hilang tidak tahu rimbanya setelah diculik oleh aparat militer pada masa rezime Suharto.

Film yang bagi saya sendiri sangat bagus, cadas, kuat dan menusuk hati nurani yang paling dalam. Saat saya memikirkan apa tema yang pas untuk menorehkan catatan kecil tentang film ini. Saya akhirnya mengikat kesan saya atas film ini dengan kalimat Persahabatan yang Mengguncang Indonesia.

Film ini berbicara riwayat Herman dan Bimo serta biografi sosial mulai mereka lahir berinteraksi dengan lingkungannya dilanjutkan saat mereka menjadi aktivis mahasiswa sosialis yang memperjuangkan demokrasi sampai mereka dihilangkan oleh Tim Mawar dibawah pimpinan Prabowo Subianto.

Pembuat film ini mengelaborasi secara cerdas padat, kuat dan tajam pada tiap-tiap sekuel biografi sosial mereka. Saya hendak mengelaborasi point interaksi persahabatan mereka pada saat menjadi aktivis mahasiswa organisasi kiri PRD. Dengan segala susah senang diantara mereka.

Film ini berhasil membongkar konstruksi hegemonik yang selama ini ditanamkan oleh Suharto yang terwarisi sampai saat ini tentang demonisasi (penyetanan) menjadi kiri, termasuk penyetanan pemuda kiri yang selalu ditanamkan identik dengan pemuda2 yang mengalami: penyimpangan perilaku, terasing dari lingkungan (kuper), apatis-frustasi, mahasiswa minus prestasi, anti-agama dan pemuda-pemuda seperti inilah yang kemudian menjadi lawan-lawan dari Suharto. Demikianlah instrumen-instrumen media pendukung Suharto membingkai para pemuda seperti ini yang pada waktu itu mendapatkan stigma non-manusia oleh Suharto sendiri dengan istilah: Wereng!

BACA JUGA:  Universitas Padjadjaran - Pemda Banggai Tandatangani Kerja Sama Pendidikan 

Kesaksian yang dihimpun dalam rangkaian film ini berhasil menampilkan anti-thesis dari narasi Suharto dalam sosok Herman-Bimo. Herman Hendrawan dikenal sebagai sosok cerdas yang memiliki wawasan tajam dan kritis terhadap realitas sosial yang saat itu menindas. Dia telah menyelesaikan kuliahnya selama 3 tahun dan seperti kesaksian kakak klas saya Kemas I Z ketika dikejar-kejar, dia sedang menuntaskan skripsinya soal Paulo Freire tentang pedagogi kritis perlawanan terhadap rezime otoritarianisme.

Herman terpikat dengan gagasan sosialisme bukan karena dirinya sosok kuper yang terpisah dari realitas, namun manifestasi intelektual dari komitmen sosial dan kepekaan diri serta solidaritas perkawanannnya sebagai remaja yang selalu setia kawan yang telah dipupuk sejak ia kecil sampai dirinya berada di bangku kuliah. Itu merupakan pengakuan kawan karibnya sejak kecil, kawan SMA dan kawan seperjuangannya pada saat aktif di PRD.

Kapasitas sosial tersebut yang membuat Herman seorang anak muda yang telah berkali-kali khatam Al-Qur’an mampu menjadi aktivis yang mampu merangkul para kawan-kawan seperjuangan, comrade in social struggle dari berbagai kalangan melalui beragam persuasi mulai dari kalangan anak yang backgroundnya gaul seperti Mbak Nia Damayanti Wirya , sosok religius musisi keren yang gandrung atas bertahtanya Kerajaan Tuhan bagi kaum tertindas macem Bimo Petrus, aktivis masjid yang cerdas macem Bung Windiarto Kardono, figur kharismatik macem Heru Untuk bergerak pada jembatan Demokrasi melawan otoritarianisme Suharto. Herman juga adalah manusia romantis, sesuatu yang selama ini dianggap dalam narasi hegemonik Orba adalah asing bagi mahasiswa kiri, tertuang dalam surat-surat bagi kekasihnya.

BACA JUGA:  Nyaleg di Dapil Jakarta 1, Politisi NasDem Ahmad Ali Terancam Tak ke DPR RI

Hal yang serupa bisa kita saksikan pada figur Bimo Petrus terlahir dari keluarga saleh katholik, seorang pemuda yang selalu tertambat pada kasih Jesus, dengan sensitivitas yang kuat terhadap realitas sosial, setia kawan, memiliki bakat yang tinggi akan seni dan kajian sosial, bersahabat erat dengan para pemuka agama. Bimo adalah mahasiswa yang cerdas, riang gembira dan mampu melontarkan perlawanan dan gagasan progresifnya melalui artikel di opini koran, orasi sampai lagu-lagu seni beraroma Rock yang sejalan dengan semangat muda anak tahun 90-an.

Dahsyat!

Namun ada yang lebih dahsyat lagi dari itu semua mereka membangun perkawanan politik dan perkawanan yang kuat dan sanggup mengguncang Indonesia. Mengapa saya bilang demikian. Jaman itu sampai tahun 90-an awal setiap gerakan mahasiswa mengambil posisi gerakan moral, untuk memisahkan diri dengan hantu propaganda Suharto tentang gerakan politik yang dianggap buruk dan bejat. Mereka melempar dinamit di ruang gerakan sosial, bahwa mereka tidak menempatkan diri sebagai gerakan mahasiswa tapi melampaui itu merupakan gerakan rakyat dengan meleburkan diri dengan gerakan semesta rakyat, buruh, tani dan kaum miskin kota.

BACA JUGA:  Golkar Unggul di Banggai Kepulauan, Kursi Ketua DPRD Lepas dari NasDem

Anak2 muda yang cerdas, riang gembira dan perduli akan keadaan ini menampilkan platform cadasnya di dinding arena politik Indonesia: Cabut Dwi Fungsi ABRI, Cabut paket undang-undang , tanah untuk rakyat, Lawan Korupsi, Politik bentukan Orba, Multi Partai, demokrasi! Platform yang jujur kita akui hampir semuanya menjadi platform dari agenda reformasi. Tidak heran Suharto mengutuk mereka dengan istilah Wereng! Dan muncullah komando untuk menculik mereka dibawah pimpinan menanti ya Prabowo Subianto.

Para kaum muda yang bersinar ini kemudian banyak yang hilang, Bimo dan Herman anak-anak muda tercerahkan diantara seluruh kaum muda Indonesia ini masih hilang hingga hari ini.

Pulang Bimo Pulang Herman, tampilnya dirimu dan kawan-kawanmu telah menjadi dinamit yang mengguncang dan menjebol tembok otoritarianisme Indonesia menuju jembatan demokrasi, kepulanganmu dan kejelasan khabar tentang dirimu semua tentu akan menjadi khabar baik dari mendung demokrasi kita saat ini! Pulang semua teman2mu menunggumu, demokrasi Indonesia juga menunggumu!

Lawan perusak republik, lawan penghacur demokrasi, lawan peludah etik!

Demokrasi menang, Republik Menang, Sosialisme Indonesia Menang! ***