Perempuan Dalam Narasi Terorisme

  • Whatsapp
Nurjana Syamsudin

OLEH: Nurjana Syamsudin
(Aktivis Muslimah)

Narasi terorisme semakin meluas dengan hadirnya frame gender dan perempuan. Tidak lagi seputar, apakah terorisme bersifat religius? Dalam pengertian, apakah pemeluk suatu agama tertentu saja yang patut digelari teroris? Mengingat “diksi” maupun simbol agama tertentu sering dikaitkan dengan aktivitas maupun pelaku teror. Juga tidak hanya, apakah terorisme bersifat rasialis? Dimana hanya golongan atau ras tertentu saja yang pantas disebut teroris?

Bacaan Lainnya

Pada peristiwa penyerangan bom bunuh diri di gereja Katedral Makassasr (28/03/2021), kepala Kepolisian RI, Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebelumnya mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri di Makassar adalah pasangan suami istri, (tempo.co 03/04). Tidak berselang lama terjadi aksi teror kedua di Mabes Polri yang dilakukan oleh seorang perempuan. Kedua kejadian ini menambah perbendaharaan kata dalam aktivitas kontraterorisme, yakni munculnya aksi terorisme berbasis gender. Dimana perempuan menjadi pelaku teror.

Framing

Menarik ketika aktivitas teror tersebut dilihat dari berbagai sudut pandang. Menurut analis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ada banyak hal yang menjadi penyebab keterlibatan perempuan dalam tindak terorisme. Mulai dari aspek sosiologis, kultural, psikologis maupun strategis.

Kehidupan kapitalisme menggiring pada kemiskinan, ketidakadilan, menumpulkan nalar-logika, serta rendahnya tingkat pengetahuan. Menghasilkan ketidakpercayaan terhadap tatanan kehidupan saat ini. Pada kondisi demikian, ketika bertemu dengan janji-janji surga, mereka tidak lagi jernih melihat sumber masalah. Padahal kerusakan sistemik harus diubah dengan pemikiran, bukan dengan tindakan teror.

Menjadi sebuah perhatian serius ketika dilihat dalam prespektif gender, aktivitas teror tersebut merupakan transformasi posisi perempuan. Dulu, perempuan menjadi korban aksi terorisme, baik sebagai korban maupun sebagai istri atau anak pelaku tindak terorisme, sekarang perempuan menjadi pelaku langsung tindak terorisme.

Ketimpangan struktur sosial mengokohkan budaya patriarki, diskriminasi, kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan perempuan. Ekspresi budaya patriarki menjadi ancaman bagi perempuan untuk dimanipulasi keadaan, agar tampil menjadi subjek bagi aktivitas teror.

Sebagaimana “ketergantungan ekonomi pada suami” dianggap sebagai kemiskinan dan ketergantungan finansial bagi perempuan. Sehingga pada titik inilah muncul prespektif kontraterorisme berbasis gender. Menjadi narasi baru dalam pusaran anti terorisme. Frame narasi seperti ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap perempuan. Yakni, sebagai objek intimidatif terhadap relasi sosial-kulturual kaum laki-laki.

Pengarusutamaan kontraterorisme berbasis gender berpotensi digiring pada solusi berbasis feminisme. Dalam prespektif feminisme, pendidikan dapat merekonstruksi budaya dalam skala keluarga, melakukan reformasi hukum yang dianggap diskriminatif terhadap perempuan dan reinterpretasi ajaran agama maupun nilai-nilai agar sesuai dengan nilai-nilai humanisme dan universal.

Sementara hal tersebut dapat mendistorsi atau bahkan mengubah paradigma berpikir seorang muslim, mengacaukan interaksi dalam rumah tangga, maupun dalam kultur-sosial. Akan melahirkan kompetisi gender di ranah publik dan domestik.

Terorisme

Islam mengharuskan seluruh umat muslim, laki-laki maupun perempuan untuk menerapkan hukum syariat di seluruh aspek kehidupan secara kaaffah (menyeluruh). Sebagaimana Islam penerapan syariat Islam dalam rangka menjamin eksistensi manusia, menjaga akal, kehormatan, jiwa, agama, dan keamanan.

Tetapi untuk menerapkan syariat tidak dapat dilakukan dengan tindakan kekerasan ataupun teror dan sejenisnya. Islam secara tegas melarang tindakan kekerasan seperti perusakan fasilitas umum, penganiyayaan, maupun pembunuhan.

Kedudukan perempuan dan laki-laki dalam Islam adalah sama. Pembedanya adalah ketakwaan. Perempuan dan laki-laki memiliki peran yang berbeda, tapi perbedaan tersebut bukan bentuk diskriminasi gender, bukan juga untuk merendahkan perempuan. Peran inilah yang menjadi pelengkap dalam menjalankan peran kehidupan sebagai manusia.

Terorisme sebagaimana dalam terminologi barat hukumnya haram dalam Islam. Tidak ada dalam literatur Islam yang menempatkan tindakan terorisme sebagai bagian dari “daftar ibadah”. Menggunakan alasan agama sebagai landasan aksi teror adalah kesalahan besar. **

Pos terkait