Pelaksanaan Diversi Untuk Kasus Penganiayaan di Balantak Utara, Kejari Hentikan Penuntutan pada Pelaku Anak

  • Whatsapp

BANGGAI RAYA-Kejaksaan Negeri Luwuk menghentikan penuntutan terhadap dua anak yang terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap seorang pria berinisial J di Desa Teku, Kecamatan Balantak Utara.

Berdasarkan rilis yang disampaikan Kasi Intelijen Kejari Banggai Firman Wahyudi, Selasa (25/10/2022), pada hari Senin, 24 Oktober 2022 bertempat di Aula Baharuddin Lopa, Kejaksaan Negeri Banggai telah menyerahkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (P-26 anak) dan Penetapan Ketua Pengadilan Negeri Luwuk kepada anak dan keluarga anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) atas nama A & S.

Bacaan Lainnya

Dua anak ini bersama dengan pelaku dewasa melakukan penganiayaan terhadap saksi korban J di Desa Teku Kecamatan Balantak Kabupaten Banggai.

Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu tanggal 23 Juli 2022 sekitar pukul 02.30 Wita, pada saat saksi korban dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Namun di tengah perjalanan, saksi korban melihat ada kerumunan dan bertanya kepada orang-orang yang berada di kerumunan, hingga kemudian terjadi kesalahpahaman yakni anak A memukul saksi korban yang diikuti terdakwa P, FP, dan AP bergantian memukul saksi korban, hingga saksi korban, anak A, Terdakwa P, FP dan AP terjatuh ke saluran air.

Di saluran air, saksi korban menggigit jari tangan kanan anak A, kemudian anak S datang menghampiri saksi korban yang sedang berada di saluran air dan langsung memukul saksi korban.

Karena merasa terancam, saksi korban kemudian lari meninggalkan lokasi kejadian. Akibat perbuatan anak A & S bersama para terdakwa, saksi korban mengalami luka lecet pada dahi kiri, betis kanan, lutut kanan dan pergelangan tangan.

Perbuatan anak A & S disangka melanggar Pasal 170 ayat (1) ke-1 subsidair Pasal 351 ayat (1) jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Menurut Kasi Intel yang juga Humas Kejari, kesepakatan diversi berhasil dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2022 oleh Jaksa Penuntut Umum yang dihadiri keluarga ABH, keluarga korban, tokoh masyarakat dan Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Kelas II Luwuk.

Pelaksanaan diversi tersebut berpedoman pada ketentuan Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan pidana anak. Adapun alasan pemberian diversi terhadap anak A & S adalah, usia anak belum mencapai 18 tahun, ancaman pidana di bawah 7 (tujuh) tahun, anak baru pertama kali melakukan pidana dan saksi korban memaafkan perbuatan anak.

Adapun terhadap terdakwa lainnya yang dewasa yaitu P, FP dan AP saat ini telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Luwuk untuk disidangkan. DAR/**

Pos terkait