Pandemi, Wartawan Khawatir Menemui Narasumber

  • Whatsapp
BUDI SAHARI, wartawan Luwuk saat menyampaikan suka dan duka di masa Pandemi Covid-19 ini, pada acara Sapa Wartawan Media Banggai yang digelar oleh JOB Tomori dan Donggi Matindok Field, di Hotel Swiss Belln Luwuk. FOTO RUM LENGKAS

BANGGAI RAYA- Sejak Maret 2020 lalu, Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 melanda Negara Indonesia termasuk Kabupaten Banggai, membuat kerja-kerja Jurnalistik bagi para wartawan media cetak maupun online di daerah ini terganggu.

Rasa ketakutan para wartawan lokal itu, sehingga untuk mendapatkan informasi dari narasumber dengan menggunakan media Handphone, melalui telepon dan WhatsApp.

Bacaan Lainnya

Itu terungkap saat dua wartawan Lokal Kabupaten Banggai menyampaikan suka dan duka kerja liputan di masa Pandemi Covid-19, pada acara Sapa Wartawan Media Banggai yang selenggarakan JOB Tomori dan Donggi Matindok Field, belum lama ini, di Hotel Swiss Belln Luwuk.

Wartawan Luwuk Post, Budi Sahari pada kesempatan itu mengatakan, bahwa yang lebih aktif dalam pencegahan penyebaran Pandemi Covid-19 di lingkungan wartawan adalah JOB Tomori.

Ia menceritakan, bahwa masalah melakukan kegiatan liputan di masa Pandemi Covid-19, seperti sangat terbatas ruang gerak para wartawan untuk mengkonfirmasi narasumber, sebab muncul rasa takut untuk bertemu langsung dengan narasumber, hanya melalui telepon, WhatsApp atau pesan singkat lainnya.

“Seperti pada kegiatan hari ini (Halal bi Halal) kita harus menggunakan masker, dan tetap menjalani protokol kesehatan. Dengan menggunakan masker ini, kita tidak bisa merokok. Kita harus terbatas, karena kita harus taat pada protokol kesehatan, yaitu menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker,” kata Budi Sahari.

“Itu tugas dengan adanya perubahan perilaku, dalam liputan di masa Pandemi Covid-19. Kalau sebelumnya, kita meliput dengan tidak menggunakan masker. Tapi di masa Pandemi ini, kita harus menggunakan masker. Tujuannya adalah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Kita harus disiplin, teman-teman harus disiplin. Kita harus kampanyekan protokol kesehatan,” harapnya.

Sementara itu, wartawan senior, Gafar Tokalang menambahkan, bicara soal pengalaman tentang bagaimana menjalankan kerja-kerja Jurnalistik di masa Pandemi Covid-19 ini. Jadi memang, kita semua memiliki cerita masing-masing tentang liputan di masa Pandemi ini.

Yang jelas kata dia, dimana Kabupaten Banggai yang merupakan daerah yang disebutkan sebagai daerah penyebaran lokal dengan kategori yang pernah mendapatkan sebagai daerah zona merah.

Maka sambung Gafar, seluruh aktivitas masyarakat menjadi sangat terbatas, termasuk kalangan teman-teman Jurnalistik. Untuk menemui narasumber saja berpikir. Bukan hanya narasumber yang berpikir, tapi wartawan juga harus berpikir panjang.

Apalagi tekan dia, para pejabat ini sering keluar daerah. Jadi sama-sama takut, sehingga tinggal menggunakan media handphone, melalui telepon dan WhatsApp. Itu cara berkomunikasi kemarin, ketika di awal-awalnya Pandemi Covid-19 melanda Kabupaten Banggai.

“Sebab kalau kena Covid-19 langsung mati, itu yang ada dipikiran kami, jadi jaga takut. Tapi, Alhamdulillah apa yang telah dilakukan oleh JOB Tomori dengan memberikan bantuan minuman herbal bagi para wartawan di Kabupaten Banggai, seperti minuman jahe, kunyit, temulawak dan mengkudu, itu sudah sangat membantu,” tambahnya.

Pos terkait