Mengejar Target Produksi di Tengah Pandemi Covid

  • Whatsapp
Oleh: Iskandar Djiada, wartawan Banggai Raya

BANGGAI RAYA– Awal tahun 2020 lalu, Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyampaikan target produksi migas sebesar 1 juta barel per hari pada tahun 2030 mendatang dan produksi gas sebesar 12.300 MMSCFD.

Dalam laman setkab.go.id sebagaimana dikutip dari Kontan.co.id edisi 4 Maret 2020, Arifin mengatakan bahwa pemerintah bersama berbagai pihak terkait harus melakukan langkah-langkah untuk bisa meningkatkan produksi, antara lain mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan yang ada, kemudian melakukan program reserve to the production.

Untuk merealisasikan target produksi yang dicanangkan pemerintah tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas, menyiapkan empat strategi untuk mengejar target produksi siap jual minyak dan gas bumi 1 juta barel per hari. 

Dikutip dari Tempo.Co tanggal 2 Juli 2020, Kepala SKK Migas Dwi Setjipto mengatakan, strategi yang dibuat lembaga tersebut, pertama dengan cara mempertahankan produksi yang sudah ada. Kedua, upaya percepatan sumber daya menjadi produksi dan pemberian insentif kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) agar mencapai keekonomian yang wajar. Ketiga, percepatan penerapan chemical enhanced oil recovery atau proses kimiawi untuk meningkatkan pemulihan minyak. Dan keempat adalah tawaran SKK Migas kepada investor untuk menggarap 12 area potensial di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Indonesia Timur.

Di awal pencanangan tersebut, semua pihak termasuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama optimis bisa mencapai target. Namun seiring perjalanan waktu, Tahun 2020 ternyata menjadi tahun yang cukup sulit untuk hampir seluruh negara di dunia, tak terkecuali Indonesia, menyusul merebaknya wabah penyakit yang diakibatkan oleh virus corona. Berbagai sektor yang semula berjalan normal dan diharap tetap berjalan normal di awal tahun, ternyata mengalami gangguan. Corona virus disease (Covid) 19 yang mulai mewabah di Indonesia sejak awal Maret, terus menyebar ke berbagai daerah, dan akhirnya memaksa pemerintah melakukan berbagai pembatasan sosial sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan. Akibatnya, aktivitas ekonomi terhambat, sebab kegiatan masyarakat di berbagai sektor termasuk pekerja sektor migas juga terkendala dengan kebijakan penanganan pencegahan penyebaran Covid-19. Penanganan Covid-19 memang harus menjadi prioritas, karena hal itu menyangkut kesehatan masyarakat secara khusus dan negara secara umum.

Meski demikian, SKK Migas tetap bertekad bahwa target sektor hulu migas itu bisa dicapai, apalagi waktu pencapaiannya adalah Tahun 2030.

Optimisme untuk tetap bisa mencapai target tersebut, salah satunya disampaikan Faizal Abdi, Spesialis Dukungan Bisnis SKK Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi. “Target capaian produksi 1 juta barel per hari untuk minyak dan 12 Ribu MMSCFD untuk produksi gas itu ditetapkan Tahun 2030, dan kami optimis hal itu bisa dicapai,” kata Faizal kepada wartawan di Luwuk, 22 September 2020 lalu.

Ia mengakui bahwa pandemic Covid-19 cukup memberi dampak terhadap kegiatan usaha hulu migas. Dalam catatan SKK Migas kata dia, terdapat delapan dampak Covid-19 terhadap kegiatan hulu migas. Pertama, transportasi material lebih lama, terutama material dari luar negeri. Kedua, inspeksi peralatan atau fasilitas lebih lama, karena adanya kebijakan work frome home (WFH). Ketiga, mobilisasi pekerja ke lokasi lebih sulit karena perijinan dan waktu karantina, serta potensi overstay yang berisiko pada keselamatan kerja. Keempat, persetujuan pengurusan perijinan dapat memakan waktu lebih lama. Kelima, kegiatan manufaktur peralatan migas untuk proyek tertunda atau lebih lama. Keenam, keterbatasan jumlah personel yang diperbolehkan berada di lokasi proyek, khususnya proyek offshore atau lepas pantai. Ketujuh, produktivitas tenaga kerja menurun. Kedelapan, produktivitas engineering dan konstruksi menjadi lebih rendah karena kebijakan WFH.

Namun sekali lagi kata Abdi, SKK Migas tetap optimis bahwa target produksi minyak dan gas bumi bisa dicapai, meskipun di tahap awal target ada kondisi pandemic covid yang sebelumnya tidak terduga.

Optimisme untuk bisa mendukung target capaian produksi hulu migas juga disampaikan managemen Joint Operating Body Pertamina– Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori). Salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah pengawasan SKK Migas dan beroperasi di Blok Senoro, Sulawesi Tengah itu tetap beroperasi di masa pandemic. Hal itu demi menjamin kelancaran pasokan energi dan bahan baku migas untuk kebutuhan nasional dan daerah, serta pencapaian target penerimaan negara dan daerah dari sektor usaha hulu migas.

Meski demikian, karena kondisi pandemic Covid-19, JOB Tomori sebagai salah satu obyek vital nasional juga melakukan serangkaian langkah untuk pencegahan penyebaran penyakit yang disebabkan virus corona.

Relation Section Head JOB Tomori, Ruru Rudianto Age Sartoko dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/10/2020) mengatakan, managemen perusahaan telah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah guna mobilisasi pekerja di masa pandemic. Setiap pekerja kata dia, dibekali dengan surat penugasan perjalanan dinas yang dilengkapi dengan sejumlah syarat penunjang, seperti surat keterangan pemeriksaan rapid tes, surat penugasan personil pengamanan pasokan migas dari Pertamina Hulu Energi dan dokumen lain.

JOB Tomori juga menerapkan sejumlah kebijakan khusus di masa pandemic, mulai dari edaran peningkatan kewaspadaan saat menaiki transportasi umum, pola kerja WFH dan pembatasan jumlah pekerja WFO, hingga kewajiban mematuhi seluruh protokol kesehatan,

Langkah-langkah tersebut kata Ruru, selain untuk memastikan bahwa tidak ada penyeberan Covid-19 di lingkungan perusahaan, juga demi memastikan bahwa kegiatan produksi hulu migas tetap berjalan sesuai target.

Kebijakan ketat yang dilaksanakan JOB TOmori itu terbilang efektif dalam mencegah munculnya kasus covid di lingkungan perusahaan, terbukti dengan tidak adanya temuan kasus positif Covid-19 di lingkungan perusahaan berdasarkan hasil uji swab, dan sekaligus bisa mempertahankan target produksi Tahun 2020.

Terkait dengan produksi, berdasarkan data SKK Migas Kalsul, lifting gas JOB Tomori untuk periode Januari-Agustus sebesar 315 MMSCFD atau selisih tipis dari target APBNP 2020 dengan lifting sebesar 316 MMSCFD. Angka lifting Tahun 2020 ini melebihi lifting periode Januari-Desember 2019 yang hanya sebesar 295 MMSCFD.

Sementara untuk lifting minyak/kondensat periode Januari-Agustus 2020, JOB Tomori mencatat angka sebesar 7.747 BOPD atau di atas target APBNP sebesar 7.519 BOPD.

Untuk wilayah Kalsul, SKK MIgas juga mencatat angka lifting gas Januari-Agustus 2020 sebesar 1.700 MMSCFD atau sudah di atas target APBNP sebesar 1.593 MMSCFD. Begitupula dengan lifting minyak/kondensat untuk wilayah Kalsul tercatat sebesar 82.740 BOPD atau sudah di atas target APBNP sebesar 78.941 BOPD.

Dari gambaran di atas, maka bukan sebuah asumsi berlebihan bila jajaran SKK Migas maupun KKKS tetap menyampaikan rasa optimismenya bahwa target produksi 1 juta barel per hari di Tahun 2030 mendatang akan bisa dicapai. Sebab masih ada sembilan tahun ke depan untuk menggenjot produksi dari lapangan minyak dan gas yang sudah ada, namun belum mencapai titik produksi optimal, maupun menemukan cadangan lapangan migas yang baru. **

Pos terkait