Mendadak Keluarga dan Kenal Dekat, Gaya Caleg ‘Rayu’ Pemilih

CATATAN: Iskandar Djiada, Banggai Raya

BANGGAI RAYA- Mendekati hari pemilihan umum, pergerakan calon anggota legislatif (caleg) kian masif. Berbagai upaya mereka lakukan demi merebut suara. Mulai dari pemasangan baliho dan beragam tanda gambar demi memperkenalkan proses pencalegannya, konsolidasi, pertemuan dengan beragam kelompok masyarakat dan berbagai agenda lain.

Salah satu bentuk kegiatan yang juga masif dilakukan adalah mengunjungi rumah warga atau dikenal sebagai kegiatan door to door. Ragam cerita dikemas sebagai bahan pembicaraan saat mengunjungi warga.

Ada yang berbicara pada tataran program ketika ia terpilih kelak, namun ada yang sekadar bagi-bagi alat peraga dan ngobrol santai. Uniknya, ada caleg bersama tim suksesnya yang mungkin ‘kurang bahan’, lebih memilih pembicaraan ringan dan topik yang diharap menggugah simpati warga yang dikunjungi, yakni mengaku sebagai keluarga atau merasa sangat kenal dekat dengan warga yang dikunjungi.

BACA JUGA:  Golkar Unggul di Banggai Kepulauan, Kursi Ketua DPRD Lepas dari NasDem

Ada yang datang dengan cerita silsilah keluarga hingga bertemu ujung dengan silsilah warga yang dikunjungi, dan ada pula yang bercerita soal kedekatan masa lalu. Pokoknya kata ‘ternyata torang keluarga’ atau ‘torang dulu baku teman dekat’ atau ‘torang sangat baku kenal’ atau ‘torang pe orang tua baku kenal baik’, menjadi sering didengar warga yang dikunjungi caleg dan timnya.

BACA JUGA:  Universitas Padjadjaran - Pemda Banggai Tandatangani Kerja Sama Pendidikan 

Gaya caleg merayu pemilih itu tentu sah-sah saja. Namanya juga usaha. Walaupun ada yang kadang berlebihan dan jadi sangat ‘pencitraan’. Sebab menurut warga, ada yang biasanya ‘menyapa’ saja tidak pernah saat bertemu di jalan, namun seolah-olah saat ini menjadi sangat ramah. Ada yang mungkin secara silsilah memiliki hubungan kekerabatan, namun terkesan tak dekat saat sebelum musim pemilu, dan baru mengakrabkan diri saat menjelang hari pemilihan. Ada juga yang sejatinya tak saling mengenal saat sebelum tahun politik, namun di tahun politik ini seolah menjadi sangat dekat sekali dengan segala rangkaian cerita.

BACA JUGA:  Dinkes P2KB Balut Gelar Pelatihan Orientasi TPK Berbasis e-Learning

Sekali lagi, upaya itu sah-sah saja. Namanya juga usaha dan rayuan itu adalah bagian dari usaha. Urusan apakah usahanya melalui ragam cerita dan rayuan itu dipercaya warga dan bisa membangun hubungan emosional, semuanya tergantung pada warga itu sendiri. Dan sampai pada hari H pemilu nanti, kisah tentang orang yang mendadak keluarga dan mendadak sangat kenal dekat ini, masih akan banyak kita temui. Setelah pemilu, kisahnya bisa lain lagi, bisa jadi mendadak tak lagi saling kenal dan mendadak tak berkeluarga…**