Jaga Produksi Migas, JOB Tomori Targetkan Senoro Selatan Berproduksi 2025

BANGGAI RAYA – Tingkat produksi migas nasional yang cenderung melambat, harus diantisipasi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dengan penemuan sumur baru maupun pengembangan sumur-sumur minyak dan gas bumi yang sudah dieksplorasi sebelumnya. Salah satu KKKS yang juga terus berupaya meningkatkan produktivitasnya adalah Joint Operating Body Pertamina Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori).

Perusahaan hulu migas yang ada di bawah pengawasan SKK Migas dan beroperasi di Kabupaten Banggai itu, kini mulai mengembangkan lapangan gas Senoro Selatan yang berada di Kecamatan Moilong.

Pada momen halalbihalal dan temu media SKK Migas, JOB Tomori, PWI Banggai dan Forkopimda, Selasa (7/5/2024), jajaran SKK Migas Kalsul dan JOB Tomori, memaparkan rencana pengembangan Senoro Selatan.

Muhammad Ary Bagus Pratomo, Humas SKK Migas Kalsul, memberikan gambaran umum betapa pengembangan Senoro Selatan menjadi bagian dari upaya menjaga produksi migas nasional. Apalagi, pemerintah menargetkan produksi migas 1 juta barel per hari di tahun 2030, sementara saat ini tingkat produksi masih berada di angka 600 ribuan barel per hari.

BACA JUGA:  Naik Turunnya Keuangan Syariah: Refleksi Ketidaksempurnaan

Sementara Visnu C. Bhawono selaku Relation, Security & community develomant Manager JOB Tomori mengurai soal dokumen kelengkapan sebagai syarat pemanfaatan migas, yang telah dimiliki JOB Tomori, termasuk di dalamnya izin AMDAL dan perizinan lainnya. Sebagai perusahaan yang taat aturan kata dia, segala sesuatu yang terkait dengan rencana operasi produksi telah disiapkan.

Ia menjelaskan bahwa untuk kegiatan pengembangan lapangan Senoro Selatan, akan mencakup wilayah kerja di dua kecamatan yakni Moilong dan Batui Selatan, dengan 13 desa di dalamnya. Namun khusus untuk kegiatan produksi yang mencakup sumur dan jalur pipa, akan berada pada 9 desa, antara lain Saluan, Toili, Slamet Harjo, Sido Harjo, Moilong, kemudian Sinorang, Paisubololi serta perairan laut Moilong dan Batui Selatan.

BACA JUGA:  Wisatawan Asal Jakarta Tujuan Danau Ubur-Ubur Bokan Kepulauan Karam di Perairan Matanga

Terkait kegiatan operasi di lapangan, dua petinggi JOB Tomori yakni Helmy Nugroho selaku Drilling Manager dan
Ahmad Budiarjo selaku Project Manager, menjelaskan bahwa khusus untuk jalur pipa, dari titik sumur di tiga cluster yang terdiri dari delapan sumur, nantinya akan melintasi sejumlah kawasan desa dan perairan Moilong serta Batui Selatan sepanjang lebih 17 kilometer.

Bila semua tahapan berjalan sesuai rencana, JOB Tomori menargetkan bulan Oktober 2025 mendatang, lapangan Senoro Selatan sudah berproduksi.

JOB Tomori juga memastikan bahwa jalur pipa akan aman. Meski demikian, demi menjamin jalur pipa gas itu tetap aman bagi produksi, masyarakat maupun lingkungan, maka kawasan yang dilintasi harus dibebaskan.

BACA JUGA:  Rayakan Iduladha 1445 Hijriah, DSLNG Berbagi Kurban 17 Ekor Sapi

Ahmad Budiarjo mengatakan, JOB Tomori kini tengah mengidentifikasi kawasan yang dilintasi, di antaranya terdapat persawahan dan perkebunan. “Lahan sawah atau kebun itu harus dibebaskan untuk jalur pipa, dan tidak boleh ada kegiatan lain di atasnya, meskipun pipa itu berada di bawah tanah dengan kedalaman 1,5 meter,” jelasnya.

Baik JOB Tomori maupun SKK Migas berharap, proyek pengembangan Senoro Selatan ini berjalan lancar dan mendapatkan dukungan semua pihak, demi memastikan produksi migas nasional bisa ditingkatkan. “Sosialisasi akan terus berjalan dengan menyasar berbagai pihak, termasuk unsur pemerintah kabupaten, kecamatan, desa dan masyarakat di wilayah yang menjadi kawasan pengembangan Senoro Selatan,” tambah Ruru Rudianto selaku Relation Section Head JOB Tomori. Media massa kata dia, juga diharap membantu proses penyampaian informasi terhadap publik. DAR

Pos terkait