Ikhtiar Masjid Daarussalam Menebarkan Cahaya Islam di Banggai

  • Whatsapp
INSPIRASI KILAUAN LAMPU FANUS MESIR

Setiap dimulai 1 Ramadhan, warga di belahan Timur Tengah Bagian Afrika, umat Muslim memasang lampu lentera. Di era moderen, umat muslim di Mesir memajang lampu lentera digantikan dengan lampu Fanus.

Dahulu kala, ketika malam tiba, anak-anak dan orang dewasa pergi keluar rumah sembari memegang lampu lentera untuk menerangi jalan para khalifah. Pemimpin setempat kala itu mewajibkan masyarakat untuk memasang lentera di depan pintu.

Saat ini, lentera digantikan dengan lampu Fanus. Ini adalah lampu gantung dengan ciri tabung yang dihiasi ukiran atau grafir khas timur tengah. Di dalam tabung itu, terdapat satu buah bohlam. Ketika dinyalakan, motif grafir akan menciptakan efek bayangan yang artistik.

Lampu Fanus Mesir itu rupanya, kini ada di Luwuk. Tepatnya dipajang di Masjid Daarussalam, Alquran Institute. Ada tiga buah lampu Fanus Mesir. Satu dipajang tepat di atas kepala tempat imam masjid memimpin salat dan dua buah lainnya dipajang di luar masjid.

Founder sekaligus Direktur Alquran Institute, Iswan Kurnia Hasan menjelaskan, tiga lampu Fanus Mesir yang dipajang di Masjid Daarusssalaam itu dibeli dari penjual di Jakarta.

Ia memastikan bahwa lampu Fanus itu asli dari Mesir. “Dibeli dari salah satu pedagang barang-barang dari Timur Tengah di Jakarta. Lampu (Fanus) itu, satu-satunya di Kabupaten Banggai. Ada tiga jumlahnya di Alquran Institute,” ujar Iswan Kurnia Hasan, Jumat pekan kemarin.

Iswan menjelaskan, Fanus adalah sebuah lampu yang menjadi tradisi umat muslim di Timur Tengah. Khususnya Timur Tengah di belahan Afrika, mulai dari Mesir, Libya, sampai Mauritania di ujung barat Afrika.

“Lampu Fanus ini biasanya muncul dan ramai kalau bulan Ramadhan. Seakan menerangi masyarakat di bulan suci agar meningkatkan ibadah ke masjid. Jadi, dulunya sebagai penerang jalan jalan di bulan Ramadhan yang akan dilalui oleh jamaah yang akan Salat Tarawih dan Qiyamullail,” urainya.

Lampu Fanus jika di daerah Sulawesi tutur Iswan, semacam tumbilotohe. Jadi, sebenarnya tumbilotohe ada pengaruhnya dari Timur Tengah. Bukan Timur Tengah yang sekitaran Teluk, tapi Timur Tengah bagian Afrika.

Untuk apa digantung di Masjid Darussalaam? Selain hiasan artistik, Iswan menjelaskan bahwa lampu Fanus digantung di Masjid Darussalaam untuk mengambil semangat meningkatkan ibadah di masjid.

Ia berharap, kehadiran Masjid Darussalaam yang dikelola lembaga Alquran Institute itu, menjadi penebar cahaya Islam di Kabupaten Banggai, layaknya kilauan lampunya.

“Digantung di Masjid Darussalaam mengambil semangat untuk meningkatkan ibadah di masjid dan semoga Masjid Darussalam menjadi salah satu penebar cahaya Islam di Kabupaten Banggai,” harap Iswan Kurnia Hasan yang merupakan lulusan Universitas Alazhar Cairo, Mesir ini. TOP

Pos terkait