Identifikasi Masalah Ala AT-FM

  • Whatsapp
OLEH: SUTOPO ENTEDING

SAYA sudah membaca tuntas dokumen visi dan misi serta program yang disajikan paket pasangan pemenang Pilkada Banggai, Amirudin Tamoreka-Furqanudin Masulili. Keduanya telah resmi menjadi kepala daerah di kabupaten bermotto ‘Momposaangu Tanga Mombulakon Tano’ terhitung mulai tanggal 8 Juni 2021.

Tulisan ini sebetulnya praktis menyadur sepenuhnya dokumen visi dan misi serta program yang tentu saja akan dijabarkan ketika memimpin dalam beberapa tahun mendatang.

Bacaan Lainnya

Tentu, saya berharap dan juga menjadi harapan seluruh masyarakat di daerah ini bahwa ada beragam masalah sesuai identifikasi tertulis dalam visi misi serta program AT-FM yang harus dituntaskan.

Identifikasi masalah yang dijabarkan itu berdasarkan hasil analisa dan riset detail dan mendalam.  

Dalam konteks yang mengacu pada situasi terkini, berbagai permasalahan dalam pembangunan daerah dapat disimpulkan, sebagai berikut.

Berikut 13 identifikasi masalah tersebut.

Pertama, lambatnya capaian pembangunan disebabkan karena penyelenggaraan pemerintahan tidak berbasis pada visi yang jelas, tidak memiliki perencanaan yang terukur sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan tidak berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan.

Kedua, keadaan birokrasi yang tidak sehat, tidak ada jaminan jenjang karir yang sesuai aturan yang berlaku terhadap penyelenggara pemerintahan, sehingga mengganggu kualitas pelayanan publik terhadap masyarakat.

Ketiga, pembangunan infrastruktur yang tidak merata, tidak terarah secara berkelanjutan serta masyarakat tidak memiliki akses terhadap informasi pembangunan, sehingga pembangunan infrastruktur tidak sesuai kebutuhan masyarakat.

Keempat, rendahnya kualitas layanan kesehatan disebabkan banyak fasilitas kesehatan dasar dan rujukan belum mampu memberikan pelayanan sesuai standar yang ditetapkan.

Kelima, kurangna tenaga medis kesehatan, sehingga tidak dapat menjangkau sampai pada pelosok desa terpencil.

Keenam, penyebaran tenaga pendidik tidak merata, menyebabkan kualitas SDM anak didik belum memuaskan.

Ketujuh, kualitas SDM tenaga pendidik yang kurang menyebabkan anak didik minim prestasi dan belum mampu bersaing dengan daerah lainnya.

Kedelapan, rendahnya motivasi anak didik, karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap anak didik yang berprestasi.

Kesembilan, pasar tradisional sebagai sumber ekonomi rakyat masih kurang baik, sehingga akses pelaku usaha mikro dan kecil terhadap pasar sangat sulit, masih tergantung pada pemerintah daeah sebagai pengelola, hal ini mengakibatkan pasar tradisional tidak dapat berkembang.

Kesepuluh, kurangnya inovasi teknologi pada processing hasil komoditi sektor pertanian dan perkebunan, sehingga nilai jual dan produktivitas komoditi rendah.

Kesebelas, tidak ada usaha yang konkret dari pemerintah daeah untuk menciptakan peluang sumber pendapatan daerah yang baru, dan atau menciptakan peluang investasi guna membuka lapangan kerja.

Kedua belas, kurangnya perhatian terhadap pengembangan nilai-nilai budaya dan pariwisata.

Ketiga belas, birokrasi pelayanan perizinan yang berbelit-belit serta tidak ada kepastian hukum, sangat menghambat investasi.

Dari beragam kesimpulan masalah itu, paling tidak AT-FM menyadari sepenuhnya identifikasi itu bersifat kualitatif, karena masih banyak hal yang secara kuantitatif menjadi problem dalam kehidupan masyarakat. Termasuk rendahnya peran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembagunan.

Karena itu, memerlukan keteladanan pemimpin yang bisa selalu mendahulukan kepentingan daerah dan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Atas kondisi tersebut mendorong putra daerah, yakni Amirudin Tamoreka dan Furqanudin Masulili untuk berkomitmen dalam membangun daerahnya dengan mendorong penyelenggaraan pemerintahan daerah secara transparan, professional dan proporsional, akuntabel dan terarah pada pembangunan daerah yang fokus pada peningkatan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan.

Mencermati kondisi tersebut inilah yang menjadi alasan mendasar, baik Haji Amir maupun Furqanudin Masulili ikut ‘tarung’ di Pilkada Banggai 2020 yang berhasil mereka menangi.

Keikutsertaan mereka di pesta demokrasi itu menjadi starting poin kesempatan berikhtiar memperbaiki daerah secara sistematis, visioner, mengerti persoalan dan memiliki solusi secara permanen, baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.***

Pos terkait