HUT Ke-64 Banggai, Mengenal Sosok Syukuran Aminudin Amir Pindahkan Kerajaan ke Luwuk

BANGGAI RAYA- Haji Syukuran Aminudin Amir tercatat sebagai Raja Banggai Ke-21, sebagai Kepala Pemerintahan Negeri Swapraja Banggai di Luwuk, 1 Maret 1941- 1 Nopember 1960.

Penyelenggaraan roda Pemerintahan Daerah Tingkat II Banggai secara riil, baru tanggal 8 Juli 1960. Sehingga, tanggal 8 Juli inilah, setiap tahun diperingati sebagai hari lahirnya Kabupaten Banggai.

Seperti dikutip dari Dokumen Museum Daerah Kabupaten Banggai, pada tanggal 12 Desember 1959 dilakukan serah terima pemerintahan dari Raja Terakhir Kerajaan Banggai, Syukuran Aminudin Amir selaku Pejabat Kepala Pemerintahan Negeri Banggai di Luwuk kepada Bidin selaku Bupati Pertama Daerah Tingkat 2 Banggai.

Kenal sosok Raja Banggai Ke-21, Hi. Syukuran Aminudin Amir.

Awal Kerajaan Banggai berada di Banggai Kepulauan, namun pada zaman Raja Syukuran Aminudin Amir, kerajaan kemudian dipindahkan ke Banggai Darat, yakni Luwuk.

Pada masa pemerintahannya, untuk wilayah Banggai Kepulauan, Raja Syukuran Amir menempatkan pejabatnya yang disebut Bun Kanken, sedang untuk Banggai Darat disebut Ken Kariken.

BACA JUGA:  Alasan Ahmad Ali Dukung Sulianti Murad, Tinggalkan Amirudin

Syukuran Aminudin Amir sangat berjasa dalam penyerahan wilayah kerajaan pada sistim kenegaraan.

Syukuran Aminuddin Amir sangat dikenal sebagai Raja yang sangat terbuka.

Dikutip dari Pilabeanku.Wordpress.com bahwa Syukuran Aminuddin Amir atau lazim disebut Tomundo SA Amir, merupakan putra dari rumpun Raja Nurdin.

Pada tahun 1940, SA Amir resmi diangkat sebagai pelaksana tugas Kerajaan Banggai dengan pusat kerajaan di Banggai.

Pada tahun 1942, penjajah Belanda harus hengkang dari Hindia Belanda dan digantikan oleh tentara Jepang.

Diantara masa peralihan kekuasaan penjajahan itu, muncul Gerakan Merah Putih dari Pagimana yang dipelopori oleh TS Bullah dan Yusuf Manoarfa. Gerakan ini, dengan segera mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda kemerdekaan.

Selain itu, gerakan Merah Putih juga melakukan penyisiran terhadap sisa-sisa tentara Belanda yang bertahan di Kabupaten Banggai.

BACA JUGA:  Sepupu Berkelahi di Luwuk, Satu Meninggal

Pada masa ini juga muncul Komite Sembilan yang sempat mengambil alih kendali pemerintahan Kolonial Belanda. Oleh Komite Sembilan, kendali pemerintahan langsung didaulat kepada Syukuran Aminudin Amir.

Saat itu juga, SA Amir langsung dijemput dari Banggai dan bawa ke Luwuk. Otomatis ibukota berpindah dari Banggai ke Luwuk.

Pada masa penjajahan Jepang, kekuasaan Kerajaan Banggai dibagi menjadi dua. Kekuasaan militer dikendalikan langsung oleh tentara Jepang dan kekuasaan sipil dipegang oleh Raja Banggai, Syukuran Aminudin Amir, dengan ibukota Luwuk.

Setelah Republik Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945 . Oleh Pemerintah Pusat, Kerajaan Banggai diberi pilihan, tetap bertahan sebagai sebuah Kerajaan atau menjadi bagian dari Republik yang baru lahir.

Raja Banggai, Syukuran Aminudin Amir memutuskan untuk bergabung dengan Republik Indonesia. Sehingga, seluruh aset kerajaan dan kekuasaan Raja Banggai secara otomatis diserahkan kepada Pemerintahan Republik Indonesia.

BACA JUGA:  Operasi Patuh Tinombala Dimulai, Berlangsung Hingga 28 Juli 2024

Oleh Pemerintah Belanda, Raja Banggai, Syukuran Aminudin Amir diangkat menjadi Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) Banggai.

Tahun 1956 terjadi rapat akbar di halaman Bangsal Kerajaan. Rapat tersebut adalah rapat Badan Perjuangan Daerah Otonom (BPDO) untuk melepaskan diri dari Kawedanaan. Rapat tersebut dihadiri Pemerintah Wedana Banggai dan aktivis partai politik.

Pada tahun 1959, Kabupaten Banggai resmi berdiri sebagai daerah otonom dalam wilayah Provinsi Sulawesi Utara Tengah dengan Gubernur pertama, Andi Arnold Baramuli.

Pemerintah Pusat menunjuk Bidin sebagai pelaksana harian Bupati Banggai. Sedangkan Syukuran Aminudin Amir tinggal sebagai Pemangku Adat Banggai.

Oleh Pemerintah Republik Indonesia, SA Amir diangkat menjadi anggota MPRS.

Pada tahun 1982, Raja Banggai Ke-21, Syukuran Aminudin Amir meninggal dunia dalam jabatannya sebagai anggota MPR RI dan dimakamkan di Desa Seseba, Kecamatan Batui. RUM/*