Guru SMPN 6 Ikuti Simulasi AKM

  • Whatsapp

BANGGAI RAYA– Dua puluh tiga guru SMP Negeri 6 Luwuk mengikuti simulasi Asesmen Kompentensi Minimum (AKM) Tahun 2020, di ruangan laboratorium komputer sekolah tersebut, Rabu (4/3/2020).
“Guru-guru kami sedang mengikuti simulasi AKM. Ada 23 guru yang ikut. Kegiatan dilaksanakan hanya sehari, di ruangan laboratorium komputer sekolah. Simulasi ini sesuai dengan jadwal dari Kemendikbud RI,” kata Proktor SMPN 6 Luwuk, Slamet Wiyono kepada Banggai Raya, di Kilongan.
Menurut dia, AKM dan survei karakter adalah soal yang mengukur kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), matematika (numerasi) dan penguatan pendidikan karakter. Bentuk soal AKM akan diperkenalkan kepada siswa yang mengikuti simulasi ujian nasional (UN) tahun 2020.
Sehingga kata dia, ada kemungkinan pula bentuk soal tersebut juga akan keluar saat UN utama nanti. Sedangkan bagi guru akan diperkenalkan bentuk soal AKM sebagai gambaran bagaimana mengelola proses pembelajaran kedepan, dan bagaimana memberikan penilaian dengan bentuk soal AKM.
Bentuk soal AKM yang diperkenalkan kepada guru kata Slamet, tidak terbatas hanya untuk guru mata pelajaran, akan tetapi untuk semua guru. Artinya, bentuk soal AKM merupakan bentuk soal lintas kompetensi, lintas bidang dan/atau lintas mata pelajaran.
Tidak lagi membedakan mata pelajaran secara signifikan akan tetapi melihat sebuah kompetensi sebagai gambaran utuh dari puzzle berbagai mata pelajaran. Mata pelajaran yang akan menjadi “tools” untuk membentuk kompetensi tersebut.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sebut dia, menyampaikan bahwa Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah kompetensi yang benar-benar minimum, di mana guru-guru bisa memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimum.
Kompetensi minimum kata dia, adalah kompetensi dasar yang dibutuhkan peserta didik untuk bisa belajar, apa pun materinya. Ini adalah kompetensi minimum yang dibutuhkan peserta didik untuk bisa belajar apa pun mata pelajarannya.
Ia mengatakan, materi AKM ada dua, yaitu literasi (baca-tulis) dan numerasi. Literasi bukan sekedar kemampuan membaca, tapi juga kemampuan menganalisis suatu bacaan serta kemampuan untuk mengerti atau memahami konsep di balik tulisan tersebut.
Sedangkan Numerasi kata dia, adalah kemampuan menganalisa menggunakan angka. Literasi dan Numerasi bukan tentang mata pelajaran bahasa atau matematika, melainkan kemampuan peserta didik menggunakan konsep itu untuk menganalisis sebuah materi. Bukan berdasarkan mata pelajaran lagi, bukan berdasarkan penguasaan konten materi.
“Tahun 2020 ini AKM dan survey karakter diuji cobakan, baik pada siswa maupun guru. Rencananya tahun 2021, AKM dan survey karakter sudah diterapkan sebagai pengganti UN,” demikian Slamet. RUM

Pos terkait