Gua Wira di Banggai, Lokasi Persembunyian Pejuang Andio di Tanah Masama

BANGGAI RAYA-Kegiatan Pagelaran Seni dan Budaya Andio tahun 2023 yang digelar masyarakat Kecamatan Masama, Kabupaten Banggai, juga diisi napak tilas dengan mengunjungi dua lokasi yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan warga asli lembah Tompotika itu.

Dua lokasi yang dikunjungi pada Minggu (31/12/2023), adalah Gua Wira di sisi barat Desa Ranga-Ranga serta Bukit Talubang yang kini berlokasi di Desa Kembang Merta (eks UPT Bali 1).

Untuk menjangkau Gua Wira, bisa dilakukan dengan kendaraan bermotor dari arah Luwuk menuju Masama atau sebaliknya. Sampai di ujung Barat Desa Ranga-Ranga atau sekira 200 meter dari tugu batas Kecamatan Luwuk Timur dan Masama, perjalanan selanjutnya dilakukan dengan berjalan kaki mendaki gunung. Menurut Babinsa setempat Arwin Dahlan, jarak gua dari arah jalan provinsi itu sekira 300 meter, namun medannya cukup terjal.

BACA JUGA:  Suami di Luwuk Selatan Tega Aniaya Istri Pakai Obeng Hingga Tak Sadarkan Diri 

“Jaraknya hanya sekitar 300 meter ke arah gunung, namun kemiringan jalurnya mencapai 75 derajat,” kata Babinsa di hadapan peserta napak tilas.

Dan benar, walaupun jaraknya terbilang dekat, namun untuk menjangkau gua, harus ditopang kondisi tubuh yang fit, sebab harus mendaki di kemiringan terjal. Jarak 300 meter dari jalan itu butuh waktu 30 menit untuk menjangkaunya dengan berjalan kaki. Karena kondisi jalan yang mendaki dengan kemiringan terjal, harus dilakukan dengan pelan dan sangat hati-hati, agar tidak terpeleset.

Rasa letih dan tarikan napas yang ngos-ngosan akhirnya terbayar, setelah tiba di depan gua. Pemandangan menakjubkan karena gua yang dikelilingi batu cadas di bawah rindangnya pepohonan, seketika menghapus peluh dan rasa letih setelah mendaki. Sesekali terlihat ratusan burung walet bercampur kelelawar yang berhamburan keluar setelah tempat tinggal mereka didatangi manusia.

BACA JUGA:  Rayakan Iduladha 1445 Hijriah, DSLNG Berbagi Kurban 17 Ekor Sapi

Gua Wira sejatinya sudah cukup dikenal oleh banyak pencinta alam dan pendaki. Namun sayang, pemerintah daerah belum memberikan perhatian apapun terhadap gua yang oleh warga Andio, diyakini memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah perjalanan dan perjuangan warga Andio dalam mempertahankan tanah Masama dari serangan Tobelo dan berlanjut dengan Belanda. Gua itu diyakini menjadi salah satu tempat persembunyian pejuang Andio saat tanah Masama diserbu Tobelo dan kemudian dijajah Belanda dan Jepang.

Karena, pegiat pendidikan Masama seperti Istanto Bidja, sangat berharap kepedulian pemerintah daerah, baik itu Dinas Pariwisata maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, untuk memberi perhatian pada situs alam tersebut. “Paling kurang, ada program pembuatan jalur dalam bentuk tangga beton dengan tiang pengaman serta gazebo di beberapa titik untuk peristirahatan para pengunjung,” kata dia.

BACA JUGA:  Naik Turunnya Keuangan Syariah: Refleksi Ketidaksempurnaan

Lokasi ini sejatinya memiliki nilai eksotis karena ada gua alam dan memiliki nilai sejarah. Tinggal pemerintah daerah, apakah mau memberi perhatian atau tidak.

Napak tilas dalam rangka pagelaran Seni Budaya Andio ini, banyak diikuti kalangan pelajar, selain warga dan pemerhati pendidikan. Hal ini dimaksudkan guna memberi pemahaman dan mengenalkan kehidupan leluhur Andio, saat berjuang dan mempertahankan diri. DAR/**

Pos terkait