Cerita Agung Alumni Teknik Elektro Banting Setir Budidaya Maggot di Toili Hingga Dilirik Pertamina EP Donggi Matindok Field

Agung Dwi Pratama menjadi narasumber sebagai Hero Lokal dalam kegiatan Media Gathering 2024 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, 3 Juni 2024, di Bandung. FOTO: JAJAD

BANGGAI RAYA– Berawal dari kesulitan dan mahalnya mendapatkan pakan ternak ayam, Agung Dwi Pratama (29) mencoba melakukan budidaya Maggot di Desa Sentral Sari, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, hingga dilirik PT Pertamina EP (PEP) Donggi Matindok Field.

Pria kelahiran Palu 22 Maret 1995 ini, harus berjuang keras dan penuh kesabaran untuk bisa mengembangkan usaha maggot dengan memanfaatkan sampah organik di desanya, Desa Sentral Sari.

Sampah adalah permasalahan jangka panjang yang harus diperhatikan. Olehnya, Black Soldier Fly (BSF) Gen Toili melakukan upaya untuk mengurangi dampak sampah organik dengan menyulapnya menjadi maggot.

Di awal-awal merintis usahanya, alumni Teknik  Elektro Fakultas Teknik (Fatek) Universitas Tadulako (Untad) itu sempat diragukan sang istri dan orangtua.

Namun dengan keyakinan usaha maggot ini sangat berpotensi, baik di sisi ekonomi dan dapat membantu peternak, Agung tak pantang menyerah.

Ia juga harus mengesampingkan ijazah strata satunya sebagai alumni teknik, dan memilih banting setir untuk membudidaya Maggot karena melihat pangsa pasar sangat menjanjikan.

“Usaha budidaya Maggot ini dimulai dari tahun 2018. Pertama, saya buat sendiri di rumah. Nanti 2021, baru saya bentuk kelompok BSF Gen Toili berlima dan sekarang 2024, Alhamdulillah kami beranggotakan 15 orang,” cerita Founder BSF Gen Toili, Agung Dwi Pratama saat menjadi narasumber sebagai Lokal Hero di acara Media Gathering 2024 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, Senin 3 Juni 2024, di Bandung.

Sebelum terjun di dunia usaha budidaya Maggot, Agung bekerja di salah satu perusahan ternama. Ia tinggal di mess, dan kebetulan di belakangnya terdapat lahan kosong.

BACA JUGA:  Wisatawan Asal Jakarta Tujuan Danau Ubur-Ubur Bokan Kepulauan Karam di Perairan Matanga

Dari lahan kosong itu, Ia manfaatkan untuk beternak ayam. Dalam beternak ayam, Agung mengalami kesulitan pakan, dan harga juga cukup mahal. 

Harga pakan ternak ayam disebutnya, mencapai Rp12 Ribu per kg, dan harga jual ayam hanya Rp40 Ribu per Kg. Harga ini tentunya sangat tidak sebanding antara pakan dan hasil produksi.

Melihat mahalnya harga pakan ternak ayam, anak muda lulusan teknik itu mencoba mencari refrensi via google. 

Berapa kali mengutak-atik smartphone-nya, usaha Maggot paling teratas dalam pencarian google, untuk mengatasi kesulitan pakan ternak.

“Jadi berapa kali saya searching google, itu yang selalu muncul Maggot. Ulat bilatung, maggot ini banyak sekali manfaatnya. Kalau di daerah Jawa mungkin sudah banyak yang tahu, tapi untuk Toili Banggai masih sangat awam,” tutur Agung yang merupakan Sosiopreneur dari 2021 sampai sekarang.

Diketahui, Maggot adalah istilah yang digunakan untuk menyebut larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens. 

Lalat ini memiliki siklus hidup maggot (larva), prepupa, pupa, dan serangga dewasa. Adapun morfologi dari maggot (larva) yaitu berwarna putih atau kekuningan dengan tubuh yang lunak. 

Maggot memiliki kemampuan untuk mengolah bahan organik menjadi sumber pakan yang bernilai tinggi. Limbah organik seperti sisa makanan, limbah pertanian, dan kotoran hewan dapat dicerna dan dimakan oleh maggot.

Beriring waktu, di tahun 2021, Agung merasa membutuhkan tim atau teman untuk mengembangkan potensi budidaya maggot ini.

BACA JUGA:  Rayakan Iduladha 1445 Hijriah, DSLNG Berbagi Kurban 17 Ekor Sapi

Ia pun mengumpulkan teman dari kalangan anak muda, mulai dari petani dan peternak. Setelah memberikan pemahaman, lima rekannya ikut bergabung.

Setelah terbentuk kelompok, Ia bersama rekan-rekannya membangun rumah produksi maggot dengan menggunakan dana patungan Rp150 ribu per orang.

Di sini, Agung bersama empat rekannya membuat rumah produksi dari bambu. Namun rumah produksi maggot yang baru dibangun setahun itu, kondisinya sudah mau roboh.

“Setelah itu, saya bersama teman-teman mencoba untuk membuat proposal. Proposal kita ajukan ke berbagai perusahaan dan pemerintah daerah,” kata Agung, menceritakan kisahnya.

Dari sekian banyak proposal yang diajukan, Pertamina EP (PEP) Donggi Matindok Field, jadi satu-satunya perusahaan yang melirik kelompok usaha Agung Dwi Pratama.

Berkat pendampingan yang dilakukan Pertamina EP Donggi Matindok Field, kini BSF Gen Toili memiliki rumah produksi permanen. Ini tentunya sangat membantu dalam pengembangan budidaya maggot.

Hasil produksi pun kian menjanjikan, dengan pangsa pasar yang terbilang tinggi dan dapat membantu masyarakat.

“Kini kelompok usaha budidaya Maggot, yang tadinya lima orang sekarang 15 orang Anggota BSF Gen Toili. Ini terintegrasi dengan usaha turunan pertanian dan peternakan. Hasil Maggot, sebagian kita jual ke wilayah lokal dan sebagian kita manfaatkan untuk kebutuhan ternak,” akunya. 

Untuk produksi telur BSF di rumah produksi mencapai 300 gram per hari, yang berarti membutuhkan sampah sekitar 1 ton per hari untuk pembesaran maggot BSF. 

Kemudian, dari pengembangan ini diperkirakan akan menghaslikan biomasa berkisar 400-500 kg maggot/hari.

BACA JUGA:  Meneropong Keadilan Islam dalam Kasus Vina, Sebelum 7 Hari: Sebuah Refleksi Hukum dan Moral

Mengembangkan budidaya Maggot di Toili, Agung terus melakukan upaya-upaya konkrit agar usaha budidayanya terus berkembang.

Upaya itu, seperti  bekerjasama dengan Duta Digital Banggai dalam program smart village. Mengadakan workshop dan pelatihan budidaya Maggot BSF

Ia juga bersama rekannya, melakukan edukasi pengenalan dan pengolahan limbah organik ke pelajar dan masyarakat.

“Menggerakkan peran wanita dalam mencari penghasilan tambahan dari pekarangan rumah. Diantaranya memanfaatkan sampah organik menjadi maggot,” ucap pria berdarah suku Jawa dan Sunda itu.

Tinggal di Tolli, Agung optimis dan meyakini bersama rekan-rekannya usaha BSF itu sangat menjanjikan.

Apalagi Toili baginya bisa disebut wilayah yang istimewa, pertumbuhan ekonominya ditopang di sektor pertanian dan peternakan.

Di dua sektor yakni pertanian dan peternakan ini menjadi tantangan bagi Agung, pasalnya masyarakat mengalami kesulitan pupuk dan pakan ternak. Budidaya ini kata dia, bisa menjadi solusi.

Masih rendahnya masyarakat dalam mengelola sampah, menjadi tugas berat bagi Agung dan rekan-rekannya untuk terus memberikan edukasi.

“Toili juga belum memiliki TPA (tempat pembuangan akhir) dalam pengelolaan sampah. Sehingga ini yang menjadi kendala kami untuk mendapatkan bahan baku budidaya. Kalau di Kota mungkin mudah beda halnya dengan Toili,” tuturnya.

BSF Gen Toili berharap kedepan dapat menjadi Industri Pakan Ternak alternatif & Waste Management di wilayah Banggai khususnya.

BSF Gen Toili juga berharap bisa menjadi salah satu industri nasional yang mendukung terciptanya ekonomi sirkular berbasis masyarakat serta mendukung lingkungan sehat berkelanjutan. (*)

Penulis: Jajad Sudrajad