Bryan Achmad Otoluwa, Part 1: Women, Infant, Children (WIC) Program

  • Whatsapp

Oleh: Dr. Yustiyanti Monoarfa

Menjelang ulang tahun si sulung di tanggal 4 November, saya tergerak menulis 2 seri catatan. Selain tepat berusia 2 dekade, juga untuk pengingat betapa berharga pengalaman yang pernah dipetik di hari-hari menjelang kelahirannya.

Bacaan Lainnya

Bryan Achmad, lahir di Situasi yang cukup sulit dan menantang.

Kisah berawal di Januari 2002. Saat itu saya mengikuti suami yang menjalani tugas belajar S2 Luar Negeri dari Kementrian Kesehatan RI dengan beasiswa penuh dari Asian Development Bank untuk belajar di fakultas Public Policy and Management, University of Southern California, Los Angeles, Amerika.

Saya menyusul setelah memperoleh izin dari Bupati Banggai saat itu (alm Bapak Soedarto).

Singkat kisah, setelah 6 bulan menikah, Allah memberi karunia kehamilan. Di bulan pertama hamil, kami berpindah kediaman d South Grand Avenue yang lokasinya lebih dekat ke kampus. Biaya sewanya sekitar 600 dolar sebulan. Meski dicover beasiswa, tapi itu cukup mahal, karena tidak bisa patungan sewa kamar sebagaimana teman mahasiswa Indonesia lain yang tidak membawa keluarga.

Bulan-bulan pertama kehamilan dijalani dengan home sick, badan berasa ngilu, penat, sakit kepala, pening dan mual karena efek ngidam. Ditambah tidak ada makanan di sana yang saya suka.

Melihat iklan burger, pizza atau sejenisnya di TV atau majalah cukup membuat lambung seperti diaduk-aduk. Walhasil saya mengatasinya dengan berbaring dan hanya suka makan biskuit cracker, buah dan air hangat.

Pos terkait