Bersama Draiv, Babasal Mombasa Launching FSB Narasi Ke-7 2023

BANGGAI RAYA- Yayasan Babasal Mombasa yang bekerjasama dengan Draiv dan Dominal menggelar Launching Festival Sastra Banggai (FSB) Narasi Ke-7 Tahun 2023, di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Luwuk, sekira pukul 15.30 Wita, Rabu (26/7/2023).

Lauching tersebut dihadiri oleh perwakilan Pertamina EP, Hidayat Monoarfa dari JOB, dan Yayasan Babasal Mombasa, mewakili Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banggai, Pegiat, Komunitas, OSIS SMA/SMK di Luwuk, sejumlah media cetak dan online, para Photografer dan Videografer.

FSB narasai ke-7 dengan tema Perubahan Iklim “Mendedah Cuaca Memperpanjang Usia Bumi” akan dilaksanakan pada 6-9 September 2023, di RTH Teluk Lalong Luwuk.

Awalnya acara launching itu, dengan memperkenalkan Tim Produksi dari FSB Tahun 2023,yaitu Production FTV, Rahmad Lasaka dan Yanti Malale, Festival Director, Ama Gasfar, Reza sebagai Kurator bersama Neni, Alif dan Saldi sebagai Sales Officer, dan Tia sebagai Projek Officer.

Festival Director, Ama Gaspar dalam kesempatan itu menjelaskan, FSB tahun 2023 pelaksanaan ke-7 ini, atau dengan menyebutnya narasi ketujuh.

BACA JUGA:  Bupati Banggai Santuni 80 Anak Yatim Piatu di Kecamatan Moilong

Narasi ke-7 ini, dengan tema besarnya adalah Perubahan Iklim atau Climate Change. Dikerenakan perhimpunan Babasal Mombasa gelisah dengan perubahan iklim, kemudian bersama tim sepakat untuk menjadikan narasi ketujuh sebagai perbincangan tentang perubahan iklim.

Menurut dia, festival ini diproyeksikan untuk menginisiasi terbangunnya ekosistem literasi di daerah-daerah Banggai Bersaudara. Sudah tiga tahun memicu keterlibatan pemerintah dan corporasi dalam kemajuan literasi.

“Sore-sore ini, kita duduk menghadap teluk membincangkan sambil minum kopi, dan ngobrol santai. Jadi kenapa narasi ketujuh 2023 ini mengambil tema besar perubahan iklim. Kita mulai dari hal-hal kecil, kita mulai dari membincangkannya terus-menerus, kita mulai dari menuliskannya, dan kita mulai dari sini, dari Teluk Lalong Luwuk, untuk semua, untuk Banggai, untuk Indonesia,” jelas Ama Gasfar kepada semua tamu undangan.

Setelah tahun lalu kata dia, Yayasan Babasal Mombasa tidak mendapatkan sokongan apapun dari daerah sendiri, tapi mendapat dukungan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui dana Indonesianya.

Tahun ini mendapatkan dukung lagi oleh Badan Bahasa melalui Pusat Pelindungan Bahasa dan Satra untuk pelaksanaan Festival Satra Banggai narasi ke-7.

BACA JUGA:  Presiden PKS Instruksikan Kader Menangkan Sulianti Murad di Pilkada Banggai

Itu sebuah kebanggaan kata Ama, bagi Babasal Mombasa ini adalah kebanggaan, karena dari 1.000 lebih pengajuan yang masuk ke badan bahasa, yang lolos hanya 58 pengaju, dan 23 diantaranya adalah komunitas. Dan 23 itu ada di Banggai.

“Ada di sini hari ini, bersama-sama untuk FSB 2023. Bagi kami itu kebanggaan, dan semoga itu juga menjadi kebanggaan teman-teman yang hadir disini. Kenapa kami mengambil latar belakang atau tema besar perubahan iklim, karena kami memandang urgensi perubahan iklim itu, dan konseptualnya perlu terus diperbincangkan atau didiskusikan di masyarakat, semua orang yang tinggal di bumi, siapapun dia. Dari anak muda, anak sekolah, mahasiswa, perlu terus mengulang-ulang bagaimana perubahan iklim berdampak pada kita. Gagasan ini perlu terus diulang, dimanapun, diperbincangkan manapun,” harapnya.

Ia mengatakan, bahwa bahwa gosip tentang arti itu tidak penting, tapi iklim sangat penting bagi kita semua, perubahan iklim sangat penting untuk kita semua. Di negara lain, di beberapa tempat, di India, Singapura, dan beberapa tempat lainnya, mereka sudah merasakan peningkatan suhu bumi yang sangat luar biasa.

BACA JUGA:  Pastikan Kesiapan Pilkada, Badan Kesbangpol Banggai Gelar Rapat Evaluasi

Di bagian Luwuk Banggai jelas dia, seharusnya tidak hujan, taapi hujan terus. Itu adalah perubahan iklim, dan ilmuan diseluruh negara berkumpul dalam Paris Ergiment 2020-2030, itu berusaha untuk menurunkan suhu bumi, agar tetap tidak naik menjadi peningkatan 2 derajat.

“Karena itu sangat berpengaruh kepada seluruh aspek kehidupan, termasuk yang sering kita bicarakan tentang ketahanan pangan, berpengaruh pada stunting dan lain-lain,” tandasnya.

Sementara itu, Reza menambahkan, bahwa kegiatan Festival Sastra Banggai Narasi Ke-7 Tahun 2023 akan menghadirkan para penulis, diantaranya, Cak Mahfud Ikhwan sastrawan dari Yogjakarta, Ipan Lani seorang penulis, juga ada Iker penulis dari Luwuk, serta Dadang Arimurtono dari Samarinda,

“Bisa ajak teman-temannya ke FSB tahun 2023, akan menampilkan penulis-penulis keren-keren yang bisa diajak photo bareng tentu saja, ada seorang Dadang Arimurtono dari Samarinda, seorang penulis dengan berambut gondrong dan bertato, serta cakep,” kata Reza menambahkan. RUM

Pos terkait