BANJIR GENANGI RUMAH WARGA

  • Whatsapp
Tanggul Pengaman Aliran Sungai Lontio Ambruk

BANGGAI RAYA- Bencana banjir di sejumlah desa/kelurahan di daerah ini seolah tak berhenti. Selasa (11/8/2020) sore misalnya, sejumlah desa/kelurahan di berbagai kecamatan harus menerima kenyataan pahit. Betapa tidak, rumah tempat tinggal warga digenangi banjir.

Di Desa Padungnyo, Kecamatan Nambo misalnya. Puluhan rumah warga di desa itu digenangi banjir. Warga direpotkan dengan mengangkut barang/perabotan, agar terhindar dari genangan air. Belum diketahui jumlah pasti berapa banyak rumah yang terendam banjir.

Padungnyo memang tak punya sungai. Namun, saat banjir melanda, jalur air yang khusus disiapkan di samping Puskesmas Pembantu Padungyo meluap. Pustu Padungnyo pun terendam sekira 30 Cm. “Beh, ini kalau banjir datang selalu terendam rumah warga. Coba lihat itu pustu so (sudah) tergenang,” ucap warga setempat.

Banjir itu meluap hingga ke badan jalan. Saluran drainase yang terbilang ukuran kecil, tak mampu menampung debit air yang banyak dan kencang. Akibatnya, badan jalan sekira sepanjang 20 meter di Desa Padungnyo terendam.

Warga setempat bergotong royong membersihkan kayu yang berserakan di jalanan, agar kendaraan bisa melewatinya.

Di tempat lain, seperti di Kelurahan Lontio, malah tanggul pengaman saluran air ambruk. Tanggul pengaman sepanjang sekira 10 meter tak mampu bertahan, akibat hantaman derasnya banjir. Air sepertinya mengikis bagian bawah tanggul pengaman.

Di Kelurahan Mendono juga mengalami hal sama. Air banjir di Sungai Mendono juga meluap. Warga yang rumahnya berdekatan dengan sungai mengungsikan diri, untuk menghindari musibah yang tak pernah direncanakan.

Banjir juga terjadi di sejumlah tempat di Kecamatan Luwuk Utara. Yakni, di Terminal Biak, Dusun 3, Desa Biak, Desa Awu dan jalan raya di lingkungan Unjulan, Kelurahan Kilongan dan Desa Boyou.

Pantauan media ini, banjir berasal dari pegunungan yang berada di atas Desa Awu dan Desa Boyou Kecamatan Luwuk Utara. Banjir dari pegunungan itu melewati sungai mati yang berada di Desa Awu dan Desa Biak, kemudian melewati pemukiman di desa tersebut. Selanjutnya membanjiri jalan raya di Desa Boyou dan lingkungan Unjulan.

Banjir tersebut membuat kepanikan warga Desa Awu dan Desa Boyou. Khawatir banjir pada tanggal 25 Juni 2020 lalu terulang. Kepanikan tersebut, seperti yang terekam video melalui media sosial (medsos) akun milik Susi Rantung.

Dalam video tersebut terekam kepanikan warga Desa Awu. Sejumlah rumah telah digenangi banjir, sehingga membuat panik pemilik rumah.

“Ya Allah, so totopore (menggigil) so banjir di got (riol) lagi, mana langkai (suami) tidak ada,” tulis pemilik akun tersebut. TOP/RUM

Pos terkait