Bali Belum Bisa Happy, Amir-Anti Jugakah?

  • Whatsapp
OLEH: SUTOPO ENTEDING

Geliat pesta demokrasi di Kabupaten Banggai terganggu. Virus asal Wuhan, China menjadi penyebabnya. Akibatnya, suasana yang biasanya bisa bersua, harus ditangguhkan.

Meskipun tanpa ada pertemuan yang menghadirkan massa, bukan berarti Pilkada Banggai tidak bergeliat. Keliatan adem, tapi faktanya benar-benar sibuk. Sibuk mencari dukungan partai politik untuk mencukupkan syarat mutlak 20 persen keterwakilan keanggotaan dewan atau 7 kursi minimal.

Bakal calon yang sudah bisa dipastikan mendapatkan tiket menjadi kontestan Pilkada Banggai barulah paslon Herwin Yatim-Mustar Labolo. Selebihnya, belum. Herwin-Mustar, calon paket bertagline WINSTAR ini sudah mengantongi 14 kursi keterwakilan Dewan Banggai. PDI Perjuangan pemilik 10 kursi sudah ada di genggaman. Jumlah ini ditambah dengan tiga kursi dari PKS dan satu kursi dari Perindo.

Sementara bakal calon lain, belum mencukupi kuota 20 persen. Mari kita runut. Bakal calon Samsulbahri Mang-Happy Yeremiah Manoppo, telah mengantongi 6 kursi, yakni 5 kursi milik Partai Golkar dan 1 kursi milik Partai Hanura. Masih kekurangan 1 kursi.  

Berikutnya adalah Amirudin Tamoreka-Furqanuddin Masulili. Bacalon ini baru mengantongi 5 kursi, yakni PAN (3 kursi) dan PKB (2 kursi). Meskipun belakangan bahwa klaim PKB belum bisa dipastikan. Kekurangan dua kursi lagi.

Terakhir adalah Sulianti Murad-Abd. Haris Hakim. Bacalon ini praktis baru mengantongi satu rekomendasi yakni, Partai Gerindra yang hanya memiliki 4 kursi keterwakilan di Dewan Banggai. Kekurangan 3 kursi.

Tiga bacalon ini, selain WINSTAR dihadang kondisi belum bisa happy. Faktanya, menyisakan satu parpol lagi yang belum menentukan sikap, yaitu Partai Nasdem. Partai ‘Gerakan Perubahan’ ini memiliki 6 kursi dewan.

Ketiga bacalon ini menaruhkan harapan mendapatkan rekomendasi Partai Nasdem. Jika tidak, bisalah diprediksi batal maju. Ya, karena kekurangan kuota kursi. Artinya, siapa pun bacalon yang menggenggam rekomendasi Partai Nasdem, maka dialah yang bakal jadi tandem sang petahana. WINSTAR sudah menunggu di titik start.

Tapi, kondisi itu juga bisa berubah. Kita mafhum bahwa politik itu bergerak dinamis. Tak ada lawan abadi, pun tak ada kawan sejati, yang ada hanyalah kepentingan. Jika kepentingannya bertemu, tentu saja bisa berubah.

Kondisi yang bisa diprediksi berubah itu adalah, bergabungnya dua bakal calon bupati menjadi satu paket. Misalkan, rekomendasi Partai Nasdem jatuh ke tangan Amirudin, maka peluang Bali Mang maupun Anti Murad, pupus. Kecuali, antara Bali dan Anti bersatu menjadi paket pasangan. Partainya, koalisi parpol yang merekomendasikan Bali Mang ditambah dengan parpol yang merekomendasikan Anti Murad disatukan untuk mengusung keduanya (Anti-Bali atau Bali Anti).

Gadang-gadang paketan antara Bali-Anti atau Anti-Bali sudah menyeruak. Ini langkah konkret. Apakah Bali Mang yang menjadi bacalon bupati atau Anti Murad, itu urusan komunikasi di antara mereka. Langkah riil memadukan dua anak Banggai terbaik ini lebih baik, ketimbang gagal bertarung. Asumsi lain pun bisa saja mengemuka.

Kondisi berbeda pun bisa terjadi, apabila rekomendasi Partai Nasdem jatuh ke tangan Bali Mang atau Anti Murad. Bukan hal tak mungkin, karena baik Bali Mang maupun Anti Murad mendaftar secara resmi di partai besutan Surya Paloh ini. Bukan mustahil bukan?

Nah, ketika misalnya rekomendasi itu mengarah ke Anti atau Bali, bisa jadi Amir pun batal tarung. Kondisi ini bisa saja terjadi. Dan Partai Nasdem seolah menjadi juru kunci penentu apakah bakal calon yang telah memproklamirkan diri di khalayak akan menjadi kontestan atau tidak.

Baik Bali, Anti maupun Amir, belum bisa happy, bukan? ***

Pos terkait