Aksi Kamisan Luwuk Minta Tuntaskan Kasus Pelanggaram HAM

  • Whatsapp

BANGGAI RAYA- Sejumlah mahasiwa yang tergabung dalam Aksi Kamisan Luwuk Banggai turun melakukan aksi perdananya, Kamis (25/11/2021) di Tugu Adipura Luwuk.

Aksi Kamisan yang secara historis dimulai dari tanggal 18 Januari 2007 yang dilakukan para korban maupun keluarga korban pelanggaran HAM.

Bacaan Lainnya

Aksi payung hitam ini juga menjadi upaya untuk bertahan dalam memperjuangkan, mengungkap kebenaran, merawat ingatan, mencari keadilan serta melawan lupa.

Isu pelanggaran HAM nasional, seperti peristiwa 1997-1998 Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2, Penghilangan dan pembunuhan paksa Wiji Thukul, Munir, Marsinah, Salim Kancil serta tragedi pelanggaran HAM berat lainnya yang sampai kini negara seakan sengaja mengabaikan berbagai kasus tersebut.

“Selain itu, isu pelanggaran HAM yang terjadi di Kabupaten Banggai juga mengalami peningkatan. Seperti kasus Tanjung Sari, Petani Kecamatan Batui dengan PT. Sawindo Cemerlang dan PT. DSP,  petani Kecamatan Toili/Moilong dengan PT. KLS, PT. Prima Dharma Karsa dan PT. Penta Dharma Karsa terhadap petani Siuna, kasus Bohotokong, masyarakat Batui dengan PT. Sentral Sulawesi terkait tambak udang, PT. KFM dengan masyarakat Pongian. Dan masih banyak lagi kasus yang menyeret ruang-ruang hidup masyarakat Kabupaten Banggai, khususnya di sektor pertambangan dan HGU perkebunan,” beber Moh. Sugianto Adjadar, selaku Koordinator Aksi Kamisan Luwuk Banggai.

Sugianto Adjadar juga menegaskan, pemerintah dan negara harus bertanggung jawab atas segala pelanggaran HAM yang terjadi.

“Negara harus bertanggung jawab atas segala pelanggaran HAM, baik yang dilakukan korporasi atau bisnis maupun negara secara langsung terhadap masyarakat, sebagimana prinsip dan instrumen hukum internasional dan nasional,” tutupnya. (*)

Penulis: April Hamzah

Pos terkait