Ada 26 Benda Cagar Budaya di Kabupaten Banggai

Subrata Kalape.

BANGGAI RAYA- Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Banggai, Subrata Kalape mengatakan bahwa sebanyak 26 benda cagar budaya (BCB) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai.

Benda Cagar Budaya Banggai tersebut telah ditetapkan sesuai Surat Keputusan Bupati Banggai Nomor 420/617/DISDIK, tanggal 07 Juni 2018.

Diantaranya, pertama, Rumah Kapitan (Museum Daerah), bangunan ini didirikan tahun 1935 oleh Kontroleur Belanda Ke-4, Kapten Paulisen, berarsitektur asli Belanda sebagai Pasangrahan, kemudian dijadikan tempat tinggal Kapitan, selanjutnya Klinik Kesehatan ABRI (Kesdim). Sekarang berfungsi sebagai Museum Daerah Kabupaten Banggai.

Kedua, Kantor DPRGR, bangunan ini digagas oleh Bupati Pertama, Bidin, Tahun 1959 yang selanjutnya pembangunannya dilaksanakan oleh Bupati kedua, R.Ace Slamet (Ketua DPRGR) bersama Ahmad Mile (Wakil Ketua DPRGR), Aco Daeng Matorang (Wakil Ketua) hingga selesainya bangunan tersebut tahun 1964. Sekarang berfungsi sebagai Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Banggai.

Ketiga, RSUD Luwuk (Akper), bangunan ini dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda tahun 1936, fungsi bangunan dulu sebagai rumah sakit dibawah Pimpinan Kontroleur Belanda Kapten JJ. Doer Meir yang memerintah sejak tahun 1935 sampai dengan tahun 1937. Dulu berubah menjadi Dinas Kesehatan dan sekarang menjadi Kampus Akedemi Keperawatan.

BACA JUGA:  SKK Migas Paparkan Capaian Kinerja Semester I 2024, Penerimaan Negara Lampaui Target

Keempat, Rumah Adat Lambangan, bangunan ini didirikan tahun 1920 bersamaan dengan pendirian Masjid Lambangan, dimana Bapak Lakasim juga sebagai Tokoh pendiri bangunan Masjid Nurul Huda Lambangan, kemudian bapak Lakasim menyerahkan kepada anaknya yang bernama Saenabo, namun tidak punya keturunan. Selanjutnya ditempati oleh saudaranya bernama Asia.

Kelima, jembatan Lobu, dibangun pada tanggal 30 November 1940 dan digunakna sebagai jalur lalu lintas dari Luwuk ke Poso, Palu, serta daerah lainnya. Pembuatan jembatan Lobu melibatkan penduduk lokal tanpa upah kerja sebagai pekerja paksa. Kekuatan jembatan ini telah teruji dengan bencana alam utamanya banjir.

BACA JUGA:  Tingkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat, DSLNG Gelar Sosialisasi Deteksi Dini Kanker Rahim dan Payudara

Keenam, rumah kediaman bapak Zuhri Noho, bangunan ini di bangun tahun 1890 oleh Zuhri Noho yang lebih dikenal dengan sebutan Tutu’ Langkai alias Panggola sebagai rumah pribadi sekaligus digunakan sebagai rumah pejabat Pemerintah Kerajaan (Bosanyo Kintom) saat itu, yang kekuasaannya meliputi Kintom, Pagimana, dan Bualemo. Sekarang rumah dalam keadaan rusak.

Ketujuh, Masjid Jami’ Nurul Huda Lambangan, bangunan ini didirikan pada tahun 1920 oleh Keluarga Lakasim dan TS Bullah, serta masyarakat Lambangan yang terdiri dari kelompok wanita yang mengangkut pasir dengan tempurung dan pria mengangkut kerikil, batu dengan menggunakan gerobak.

Kedelapan, makam Abdullah Bin Abdul Kadir Djaelani Al-Kusaini, makam penyiar Islam Abdullah Bin Abd. Kadir Djaelani Alkusaini yang melaksanakan syiar Islam pada abad 15 tepatnya tahun 1450. Uniknya lokasi diatas bukit dan makam ini berada dalam benteng pertahanan masyarakat Mendono melawan pasukan Tobelo.

Ketujuh, Gereja Tua Simpangan, bangunan ini dibangun pada tahun 1918 dalam bentuk rumah tradisional oleh masyarakat Simpangan. Pada waktu dikonstruksi Gereja dengan menggunakan tiang dari kayu, dinding bambu,atap bersusun dari daun rumbia. Saat ini Gereja Tua Simpangan tidak lagi dimanfaatkan sebagai tempat ibadah, karena dibagian samping atau di sebelah Gereja sudah terdapat Gereja baru.

BACA JUGA:  Festival Kurikulum Merdeka se Sulteng, Siswa SMPN 3 Luwuk Juara Pertama

“BCB yang sudah ditetapkan ada 26. Penetapan tahun 2023 yang belum dicetak fotonya, yakni Benteng Kintom, Rumah Raja Syukuran A. Amir 1 dan 2, Makam Kapitan tangan besi di Tangkian, Rumah bekas tinggal Konseler Belanda Van Berg di Masama, Rumah keluarga Almahdali, Kantor Distrik Sangaji Bunta/Kantor Kelurahan Salabenda, dan Rumah tinggal keluarga Bukalang. Itu bukan situs, tapi benda cagar budaya. Kalau situs itu kumpulan dari beberapa BCB, ada struktur, Artefak dan bangunan, serta benda-benda lainnya,” kata Kabid Kebudayaan, Disdik Banggai, Subrata Kalape kepada Banggai Raya, Rabu (17/1/2024). RUM