115 Napi Diasimilasi, Lapas Luwuk Masih Over Kapasitas

Kalapas Luwuk

BANGGAI RAYA– Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia belum lama ini mengeluarkan kebijakan terkait pembebasan narapidana dan anak melalui asimilasi dan integrasi sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19.

Khusus Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Luwuk, sebanyak 115 warga binaan yang mendapatkan program asimilasi tersebut pada tanggal 1 April 2020 lalu. Namun kebijakan asimilasi itu, ternyata kapasitas di Lapas Luwuk masih mengalami over kapasitas.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Luwuk, Edi Sigit Budiman kepada Banggai Raya, Kamiss (30/4/2020) mengatakan, daya tampung Lapas Luwuk hanya berkapasitas sebanyak 227 orang. Sedangkan jumlah penghuni sampai dengan saat ini sebanyak 345 orang, yaitu di dalam Lapas sebanyak 337 orang, dan 8 orang di luar Lapas.

“Tidak pak, jumlah 345 Napi ini sudah tidak dengan yang mendapatkan asimilasi. Iya pak, kapasitas Lapas kami hanya 227 orang,” kata Edi Sigit Budiman.

Dijelaskannya, 345 WBP Lapas Luwuk, dengan rincian pada ruangan A I kosong, A II sebanyak 17 orang, A III berjumlah 46 orang, A IV sebanyak 4 orang dan A V  sebanyak 2  orang, total 69 orang.

Kemudian sambung dia, ruangan B I sebanyak 271 orang, B IIa berjumlah 3 orang, B IIb kosong, B III sebanyak 2 orang dan ruangan B IIIs kosong, jadi jumlah 276 orang.

Menurut dia, WBP di dalam Lapas Luwuk sebanyak 337 orang itu, terdiri dari teroris sebanyak 1 orang, narkoba sebanyak 115 orang, korupsi 15 orang, pencucian uang 1 orang, perdagangan orang kosong, pidana umum sebanyak 205 orang, pidana mati nol, pidana seumur hidup nol dan warga negara asing (WNA) nol.

“Jenis kelamin WBP Lapas Luwuk, untuk laki-laki sebanyak 328 orang dan perempuan 17 orang. Data residivis sebanyak 14 orang. Dan WBP di luar Lapas sebanyak 8 orang, terdiri di rumah sakit dengan keterangan rawat inap tidak ada, BON tidak ada, dan ASS (kebun Lapas) sebanyak 1 orang, serta tahanan di Rutan Polres Banggai sebanyak 7 orang,” tambahnya.   

Sebelumnya, Kalapas Klas II B Luwuk mengeluarkan surat keputusan nomor W24.ED.PK.01.05.04-224, tertanggal 1 April 2020, tentang Pemberian Asimilasi di Rumah. Hal itu Luwuk menindaklanjuti Surat Keputusan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020, tertanggal 30 Maret 2020 tentang pengeluaran dan pembebasan narapidana dan anak melalui asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Maka, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Luwuk mengasimilasi sebanyak 115 warga binaan pemasyarakatan (WBP) secara bertahap, sejak tanggal 1 April 2020. Demi menindaklanjuti surat edaran Dirjen Pemasyarakatan nomor PAS-497.PK.01.04.04 Tahun 2020, tentang syarat pemberian asimilasi dan hak integrasi bagi narapidana dan anak dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Kurang lebih 115 WBP yang sudah menjalani 2/3 masa pidana sampai tanggal 31 Desember 2020. Dan selama menjalankan asimilasi di rumah, WBP tersebut mendapatkan pengawasan dari Bapas (Balai Pemasyarakatan) Klas II B Luwuk.

Latar belakang surat edaran Dirjen Pas itu, yaitu penyebaran Covid-19 di dunia cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu, menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi yang lebih besar, dan telah berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Sehingga pada tanggal 11 Maret 2020 WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemic. Dengan kondisi over crowded di Lapas/LPKA/Rutan seluruh Indonesia, berakibat pada tingginya resiko penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Serta perlu diantisipasi dan diambil langkah-langkah guna meminimalisir dampak terhadap narapidana dan tahanan yang berada di Lapas/LPKA/Rutan. Selain itu juga untuk mengurangi overcrowding dan menghemat anggaran negara. RUM